24 Hari Pascabanjir, Desa Sekumur Aceh Tamiang Masih Terisolasi

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 21 Desember 2025 | 19:52 WIB
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang yang kekurangan tenda layak untuk tempat tinggal pascabanjir.  (Dok. Instagram/marlinaausman)
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang yang kekurangan tenda layak untuk tempat tinggal pascabanjir. (Dok. Instagram/marlinaausman)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Sudah 24 hari berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 27 November 2025.

Salah satu wilayah yang terdampak paling parah di Aceh adalah Kabupaten Aceh Tamiang, yang sebelumnya diterjang banjir pada 17 November 2025.

Kondisi terkini di Aceh Tamiang terungkap melalui unggahan video Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem.

Baca Juga: Kaki Luka Kena Paku, Anak-anak Korban Banjir Aceh Titip Pesan ke Prabowo

Dalam unggahan di akun Instagram @marlinausman pada Minggu, 21 Desember 2025, terlihat Desa Sekumur masih terisolasi dan mengalami kerusakan berat.

“Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulis Marlina dalam keterangan video.

Jembatan utama yang selama ini menjadi akses menuju Desa Sekumur dilaporkan hanyut diterjang banjir, membuat jalur darat terputus total. Warga yang hendak menuju desa tersebut kini hanya bisa menyeberangi sungai menggunakan perahu nelayan.

“Akses menuju kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus. Dari kota Tamiang, kami menempuh perjalanan 2 jam untuk tiba di sini,” lanjutnya.

Selain terputusnya akses, warga Desa Sekumur juga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa bertahan di posko pengungsian darurat.

“Dari sungai, jarak tenda yang didirikan oleh swadaya masyarakat sekitar 800 meter dengan jalan yang masih berlumpur. Kini mereka sangat membutuhkan tenda yang layak, penampungan dan penyaringan air bersih, genset dan lampu penerangan serta perlengkapan sarana ibadah,” terang Marlina.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, terdapat sekitar 260 kepala keluarga dengan total kurang lebih 1.200 jiwa terdampak di desa tersebut.

Sejumlah warga menyebut bantuan logistik untuk kebutuhan sehari-hari relatif aman, namun perlengkapan ibadah masih sangat terbatas.

“Alhamdulillah ada donasi masyarakat, dari luar sana ada bantuan. Misal sembako, Alhamdulillah udah aman, yang jelas, yang tercepat alat sarana ibadah, Bu. Kebetulan puasa udah nggak lama lagi, selain itu akses jalan, Bu.” kata seorang warga. 

Selain itu, kebutuhan anak-anak juga menjadi perhatian. Seorang anak yang diajak berbincang oleh Marlina Usman menyampaikan permintaan sederhana.

“Minta sepatu sama baju sekolah terus peralatan sekolah. Itu juga sama Al-Quran karena pada hanyut,” ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X