442 Tewas, 402 Hilang: Mengapa RI Belum Tetapkan Darurat Nasional?

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Senin, 1 Desember 2025 | 13:24 WIB
Tragedi banjir bandang di Sumatera picu desakan status bencana nasional usai timbulkan korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur.  (Dok. BNPB)
Tragedi banjir bandang di Sumatera picu desakan status bencana nasional usai timbulkan korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur. (Dok. BNPB)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera memicu kekhawatiran luas, baik terkait korban maupun kerusakan fasilitas umum. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal telah mencapai 442 orang.

“Berdasarkan data sementara, total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, dan 402 jiwa masih dinyatakan hilang,” tulis keterangan resmi BNPB pada Senin, 1 Desember 2025.

Baca Juga: Hujan Mereda, Ancaman Masih Membayangi: BNPB Ungkap Fakta Terbaru Bencana Sumbar

Situasi di kawasan Asia Tenggara juga menunjukkan dampak serupa. Laporan Asia One pada Minggu, 30 November 2025 menyatakan, total korban tewas akibat banjir dan longsor yang melanda Indonesia, Malaysia, dan Thailand telah menembus angka 600 orang.

“Timbulkan 600 korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor yang disebabkan hujan deras di 3 negara itu,” tulis Asia One.

Upaya pencarian dan penyaluran bantuan masih terus dilakukan di berbagai titik. Di Sumatera, banyak daerah terputus karena kerusakan jalan dan terganggunya jaringan telekomunikasi.

Asia One menyebut tim penyelamat harus menggunakan helikopter untuk menjangkau wilayah yang tak bisa dilalui jalur darat.

“Tim penyelamat menggunakan helikopter untuk mengirimkan bantuan kepada masyarakat di wilayah yang tidak dapat dijangkau melalui jalan darat,” ungkap Asia One.

Sebuah helikopter angkatan laut dilaporkan mendarat di lapangan sepak bola di Palembayan, Sumatera Barat, guna mengirim bantuan logistik.

Asia One juga menyinggung adanya laporan penjarahan di jalur distribusi pasokan, imbas banyaknya warga yang kekurangan kebutuhan dasar.

Di Thailand, Kementerian Kesehatan melaporkan 170 orang meninggal akibat banjir bandang di Provinsi Songkhla. Kota Hat Yai bahkan disebut mengalami curah hujan tertinggi dalam 300 tahun terakhir.

Sementara di Malaysia, lebih dari 18.700 warga harus mengungsi, dan lebih dari 6.200 warga Malaysia di Thailand turut dievakuasi.

Situasi serupa terjadi di Sri Lanka yang telah menetapkan status darurat nasional setelah banjir dan longsor dipicu Siklon Ditwah.

Sebanyak 153 orang meninggal dan 191 hilang, sementara lebih dari 20.000 rumah rusak serta 108.000 warga mengungsi.

Meski berbagai negara telah meningkatkan status bencana, pemerintah Indonesia belum menetapkan tragedi di Sumatera sebagai bencana nasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X