“Tugas jurnalis bukan hanya mencari fakta, tapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya, (13/11).
Baca Juga: Natalius Pigai: Bullying Bukan Pelanggaran Etika, Tapi Pelanggaran HAM
Melalui pendekatan filosofis dan praktis, para siswa diajak menghayati empat dasar utama jurnalistik, pertama tentang “Pengambilan Foto”.
Dia menekankan bahwa lensa ibarat representasi untuk melihat dunia dengan mata yang jujur, memahami komposisi dan cahaya alami, serta beretika dalam memotret.
Dalam hal ini, siswa-siswi diajak untuk, “Hunting Foto di Lingkungan Sekolah” dengan tema Kehidupan Sekolah.
Bagian kedua yakni tentang ‘Pengambilan Video’. Pokok dari materi kedua ini bertujuan untuk menghidupkan cerita melalui gerak dan suara dengan teknik steady shot, ambient sound, dan angle bercerita.
Teori pengambilan video itu dilengkapi dengan praktik untuk membuat “Mini Vlog Sekolah” berdurasi 1 menit bertema seputar sekolah dan kecocokan siswa-siswi dalam konten yang akan mereka buat.
Setelah itu, bagian pokok ke tiga yakni tentang, menulis laporan liputan.
Samuel menegaskan bahwa pokok dan inti dari pemberitaan yakni tentang menulis kebenaran bersamaan dengan struktur 5W + 1H, kalimat aktif, dan gaya bahasa yang jernih.
Dalam bagian ke tiga ini, peserta siswa-siswi diajak untuk Praktik membuat “Laporan Mini” berdasarkan hasil foto dan video, yang kemudian dikumpulkan pada hari ke dua (14/11/2025).
Menutup rangkaian teoritis dan praktik dari dasar-dasar jurnalistik, narasumber menggarisbawahi dalam kegiatan jurnalistik yang paling pokok yakni tentang ‘Menghargai Manusia’.
Dalam materi ini, Samuel menegaskan bahwa jurnalisme lahir dari empati, dengan menghormati privasi, izin, dan konteks narasumber.
Sebagai refleksi, siswa diminta untuk merenungkan pertanyaan tentang etika berita dan nilai kemanusiaan dalam media.
Samuel juga menyoroti tantangan jurnalisme di era digital, seperti maraknya hoaks, disinformasi, dan tekanan viralitas yang kerap mengaburkan etika publikasi. Ia mendorong para siswa untuk menjadi generasi yang berpikir kritis, memeriksa fakta, dan menulis dengan tanggung jawab moral.
Sebagai penutup hari pertama, peserta diberi Mini Proyek “Jurnalis Sekolah” berupa satu paket karya liputan sederhana yang terdiri dari satu foto utama, satu video pendek, dan satu paragraf laporan disertai refleksi pribadi berjudul “Apa arti menjadi jurnalis muda?”
Artikel Terkait
CoreLab 2025 Promedia Sukses Digelar di Unesa, Mahasiswa Dibekali Skill Content Creator
Heboh! ID Card Wartawan CNN Indonesia Dicabut Istana, CEO Promedia Angkat Bicara
Bisnis Media Tak Akan Mati? Ini Pesan CEO Promedia di Mediapreneur Talks Surabaya
CEO Promedia Agus Sulistriyono Tegaskan, Kalau Tata Kelola MBG Benar, Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bukan Mimpi
Saat Mahasiswa Bicara Konten, Promedia Buktikan Jurnalisme Tak Pernah Mati
Roadshow Terakhir Promedia di Tasikmalaya, CEO Agus Sulistriyono Serukan Optimisme Media