Dari Labubu hingga LEGO Langka, Beginilah Gen Z Menghadapi Krisis dengan Treatonomics

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Minggu, 10 Agustus 2025 | 19:04 WIB
Ilustrasi Boneka Labubu yang digandrungi Gen Z di tengah krisis ekonomi.  (Unsplash @VadimRussu)
Ilustrasi Boneka Labubu yang digandrungi Gen Z di tengah krisis ekonomi. (Unsplash @VadimRussu)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi, sebagian orang mencari cara sederhana untuk menghibur diri.

Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect, yaitu kecenderungan membeli “kemewahan kecil” di saat ekonomi sulit.

Baca Juga: Kalah 38 Detik dari El Rumi, Jefri Nichol Kecewa dan Minta Maaf ke Penggemar

Kini, konsep tersebut berevolusi menjadi tren baru bernama treatonomics—perpaduan antara nostalgia dan gaya hidup digital yang lekat dengan Generasi Z (Gen Z).

Treatonomics mengubah cara pandang terhadap nilai barang. Tak lagi sekadar soal fungsi atau kebutuhan, tetapi pengalaman dan makna emosional yang menyertainya.

“Dari mainan edisi terbatas, tiket konser, hingga merchandise unik seperti Labubu, semua menjadi bagian dari budaya baru ini,” tulis AInvest dalam laporan Minggu, 10 Agustus 2025.

Konsep lipstick effect pertama kali diamati pada era Depresi Besar di Amerika Serikat, ketika masyarakat tetap membeli kosmetik meski kondisi ekonomi sulit.

Kini, “kemewahan kecil” itu meluas ke ranah pengalaman dan koleksi.

Gen Z menjadi pendorong utama tren ini.

Hampir seluruhnya memiliki smartphone, dan seperempat waktu luang mereka dihabiskan untuk bermain gim.

Baca Juga: Sekum PGI Paparkan Poin Pembahasan dalam Rakernas PGIW/SAG

“Orang bisa berhemat untuk belanja kebutuhan rumah tangga, tapi rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk set LEGO langka, tiket konser Taylor Swift, atau boneka Labubu edisi khusus,” tulis AInvest.

Pada 2025, Gen Z tercatat menyumbang 34 persen pengguna baru platform lelang digital dan 54 persen pembeli koleksi perdana. Pola belanja mereka dipengaruhi tiga faktor utama: nostalgia dengan sentuhan modern, pengaruh media sosial, dan pandangan bahwa koleksi adalah aset investasi.

Strategi kelangkaan dan fear of missing out (FOMO) mendorong pembelian berulang.

Ditambah kekuatan media sosial, tren kecil dapat meledak menjadi fenomena global tanpa iklan besar-besaran.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB

Guru di Bojonegoro Lari ke Sekolah Demi Hemat BBM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:13 WIB
X