kalbar-kita

Republik Lan Fang dalam Sejarah dan Borneo

Rabu, 10 Juli 2024 | 12:08 WIB
Orang-orang Tionghua (Hakka) dengan model rambut Manchu, Pekerja orang Tionghua di Borneo Barat, kira-kira tahun 1890. Foto dari KITLV, Leiden. (Leiden)

Orang-orang Tionghua sebagian sudah pergi ke Borneo untuk mencari gunung emas. Akibatnya dia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya.

Bersama 100 kerabatnya, dari Guangzhou menuju ke Borneo, menuju Gunung Emas di Borneo.

Dalam sajak yang ditulis oleh Lo Fong Pak setelah dua tahun berada di Kalimantan, tentang Gunung Emas di Borneo.

Ada garis besar cerita tentang penggalan sajak itu menceritakan dia meninggalkan Gerbang Harimau untuk menuju ke Gerbang Naga.

Dalam mitologi Tingkok, harimau dan naga merupakan simbol dari kekuasaan.

Salah satu sumber yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk melengkapi benang merah keberadaan orang Tionghua di Kalimantan Barat yakni buku terjemahan dari Pastor Yeremias OFMCap yang ditulis oleh Dr. JJ. De Groot dan J. W Young.

Berdasarkan catatan penerjemah (Alrm Pastor Yeremias OFMCap) sebelum abad ini, hasil terbaik dari kebijakan kolonial tercapai yakni penetapan kekuasaan Belanda atas sekitar dua puluhan kerajaan Melayu Bagian Barat Borneo.

Semua pencapaian tersebut hampir tanpa pertumpahan darah.

Satu bagian besar wilayah ini sudah bertahun-tahun dibanjiri oleh orang-orang Cina yang sekarang akrab disebut dengan keturunan Tionghua.

Demikian juga diketahui, bahwa para Imigran yang rajin ini menempati tempat yang baru, dan mendirikan republik, terutama di daerah kerajaan Sambas, Membawah, Landak dan Pontianak yang saat itu disebut dengan ‘distrik-distrik Cina’ di bagian Utara-Barat Residensi.

Dari republik-republik atau kongsi-kongsi, hanya dari Lanfong (bahasa Hakka: Lo Fong Pak) di daerah Mandor dapat bertahan sesudah perang-perang berdarah 1854, kemudian diakhiri dengan pemerintahan yang berdaulat orang Tiongkok – Borneo (sebutan untuk Kalimantan waktu itu).

Dokumen-dokumen itu dimulai dengan satu daftar kronologis kepala-kepala kongsi, dengan satu gambaran penuh seperti cara Tiongkok kuno yang benar, setiap tahun dari republik ‘Lanfong’. Berikut darftarnya:

  1. Thaiko Lo Fong-phak; memerintah dari 1777 sampai meninggal di tahun 1795
  2. Thaiko Kong Meeuw -pak, dari 1795 sampai keberangkatan ke Cina, tahun 1799.
  3. Thaiko Khiet Si-pak, dari tahun 1799 sampai meninggal di tahun 1803.
  4. Thaiko Kong Meeuw – pak, untuk dua kalinya, dari tahun 1803 sampai meninggal 1811.
  5. Thaiko Sung Tshap-pak, dari 1811 sampai meninggal 1823.
  6. Kapthai Lio Thoi-ni, dari 1823 sampai meninggal 1837.
  7. Kapthai Ku Liuk, dari 1837 sampai 1842, waktu diminta berhenti dan berangkat ke Cina.
  8. Kapthai Tshia Akwi-fong, dari 1842 sampai meninggal di tahun berikut.
  9. Kapthai Yep Thin-fui, dari 1843 sampai 1845.
  10. Kapthai Liu Kon-syien, dari 1845 sampai 1848.
  11. Kapthau Liu Liong-kwon, dari 1876 sampai meninggal 1880.
  12. Kapthai Liu A-sinm untuk dua kalinya, dari 1880 sampai meninggal di bulan September 1884.

Demikianlah nama-nama yang pernah menjadi ketua dari Kongsi Lan-Fong Mandor Kalimantan Barat yang bermula dari tahun 1777 berjaya sampai 1884.

Strategi Lo Fong Pak

Lo Fong Pak memang dikenal sebagai guru, sastrawan dan praktisi beladiri. Gaungan cerita itu masih saya peroleh dari orang tua saya bahkan keluarga besar di Sekura, Sambas juga menuturkan demikian.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB