Ketiga kriteria kepemimpinan itu akan ditopang oleh kejujuran. Dan, akan disusul dengan disiplin, tanggung jawab dan percaya diri.
Sementara kecerdasan harus dimulai dengan membangun kebiasaan budaya membaca, membaca sejarah, bersekolah dengan matang, menguasai IT & Medsos, bahasa asing dan menulis.
Sementara Visioner ditentukan oleh kemampuan para pemimpin dalam membaca tanda-tanda jaman dan alam.
"Kecerdasan dan Karakter merupakan modal untuk mencapai Cita-cita dan Tujuan Nasional sebagaimana dimuat dalam Pembukaan UUD 1945. Menjadi cerdas dan berkarakter akan mendorong pemimpin masa depan tidak mudah diadu domba oleh bangsa lain yang ingin menguasai Indonesia," urai Putut Prabantoro lebih lanjut.
Karakter, kecerdasan dan visioner akan memperkuat persatuan Indonesia, yang merupakan pilar kekuatan Pancasila dan Pancasila adalah dasar negara serta cara hidup bangsa Indonesia.
Negara adidaya ataupun ideologi lain akan dengan mudah menguasai Indonesia, jika sila ketiga tersebut dihancurkan.
Persatuan Indonesia diikat dengan slogan yang terdapat dalam Pancasila yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang menghormati berbagai perbedaan latar belakang, agama, suku, budaya, golongan dan Bahasa lokal menjadi sebuah kekuatan bersama.
Menghancurkan persatuan Indonesia dapat dilakukan dengan cara mudah yakni adu domba dan itu telah dilakukan para penjajah. Pada masa kini adu domba dilakukan dalam wujud penyebaran berita hoax melalui media sosial.
Dan, parahnya, Indonesia merupakan urutan ke-5 di seluruh dunia sebagai negara produsen hoax pada tahun 2020. Hoax atau adu domba hanya dapat dilawan jika masyarakat Indonesia cerdas dan berkarakter.
“Oleh karena itu, Pancasila yang merupakan nilai-nilai luhur nenek moyang merupakan karakter yang dimiliki bangsa Indonesia. Gotong royong, yang merupakan inti dari Pancasila, merupakan karakter sejati bangsa Indonesia dan telah terbukti keampuhannya Ketika Covid melanda dunia. Gotong Royong memainkan peranan strategis dalam menyelamatkan negara serta bangsa Indonesia dari kehancuran karena Covid. Ini berbeda dengan Amerika Serikat, negara kuat tetapi terpuruk karena Covid karena mereka tidak mengenal gotong royong,” tegas Taprof Lemhannas RI itu.
Pembangunan wilayah Kalimantan akan lebih cepat berkembang karena terdorong oleh IKN.
Kehadiran IKN hanya memiliki efek domino, jika pemimpin dan masyarakat daerah penunjang menghendaki dan mempersiapkan diri. ***
Artikel Terkait
Kardinal Suharyo Sampaikan Pesan Damai Dokumen Abu Dhabi: Awali Langkah Perdamaian Dunia PWKI ke Vatikan
Kardinal Suharyo Ingatkan Pelayanan Kasih dan Semangat Cinta Tanah Air bagi Anggota TNI/Polri Beragama Katolik
Mengenal Laudato Si, Ensiklik yang Dikeluarkan Paus Fransiskus, Berikut 6 Poin Penting yang Kamu Harus Tahu
Mengenal Ensiklik Seorang Paus Gereja Katolik Roma. 4 Ensiklik Paling Berdampak bagi Dunia Termasuk Laudato Si
AM Putut Prabantoro: Ini Tiga Kriteria yang Dibutuhkan Pemimpin Indonesia 2045