PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Bagaimana mungkin kau bisa tersenyum, sementara tugas akhirmu belum rampung, dan dua bulan lagi sudah memasuki semester sembilan?
Apakah ini menjadi akhir segalanya, atau justru ujian yang harus dilalui sebelum meraih keberhasilan?
Mana mungkin semua bisa selesai hanya dengan diam di kampung halaman, tanpa usaha berarti.
Rasa tidak terima atas revisi dari dosen pembimbing muncul, apalagi saat melihat teman-teman lain sudah sampai tahap akhir.
Apakah ini tanda mental lemah, yang sudah menyerah sebelum benar-benar berjuang?
Sudah lebih dari sepuluh kali hasil skripsi dikoreksi.
Pulpen warna-warni dosen pembimbing menandai kesalahan, mulai dari typo, paragraf yang terlalu renggang, penulisan yang tidak rata, hingga ketidaksesuaian dalam penggunaan referensi seperti Mendeley.
Rasanya naskah sudah sempurna, tapi tetap saja ada revisi tambahan.
Seolah-olah dosen pembimbing adalah penjaga mutlak kebenaran akademik.
Belum lagi saat seminar atau sidang, revisi lain pasti menyusul—baik yang sifatnya minor maupun mayor.
Tumpukan kertas koreksi pun sudah menggunung. Untungnya, dosen pembimbing bijak dengan memanfaatkan sisi belakang kertas untuk revisi selanjutnya.
Tiap dosen memiliki gaya berbeda—ada yang memilih koreksi lewat soft copy, ada pula yang lebih suka hard copy.
Alasan penggunaan hard copy adalah kemudahan mencoret dan memberi arahan langsung.
Inilah lika-liku perjalanan menuju kelulusan.
Artikel Terkait
Unika San Agustin dan PT Pribumi Kolaborasi Kembangkan Nilam, Mahasiswa Disiapkan Jadi AgriPreneur Muda
Kolaborasi Strategis San Agustin dan Bank Indonesia Kalbar
Unika San Agustin Perkuat Sinergi dengan Pemprov Kalbar untuk Pengembangan Pendidikan dan Pemberdayaan Lokal
Logistik San Agustin Kalbar Siap Tumbuh Lewat Kolaborasi Kampus-Industri
Kolaborasi Hijau San Agustin dan Pro Enviro, Dorong Agripreneur Muda
Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Edukasi Seksual Remaja di MPLS SMA Kalam Kudus