PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- “Adil ka Talino, Bacuramin ka Saruga, Basengat ka Jubata, Arus, arus, arus....”
Kealamian representasi dari kesempurnaan! Maksudnya demikian, ada kesempurnaan dalam kondisi kealamian. Alam yang menjadi pijakan seluruh makhluk hidup ini ‘dirampai’ dengan kealamian yang sempurna.
Baca Juga: Galaxy S25 Series Hadirkan Teknologi AI Multimodal dan Fitur Keamanan Unggul, Begini Kecanggihannya
Orang Dayak dekat dengan kealamian alam. Mereka bersahabat dengan alam bahkan dari alam mereka mengatur hidup, bertutur dan ber-adat.
Mereka menghargai segala dimensi warna ruang, waktu, pengalaman, dan kehidupan. Mereka (Alam) hadir sebagai sosok guru, penyeimbang, dan inti dari refleksi kehidupan.
Berjalan untuk selaras dengan semangat itu, akhirnya warisan tersebut menyusuri ruang dan sela-sela kehidupan, pola pikir, dan kehalusan yang mereka ‘ramu’ saat berjumpa dengan kerabat makhluk ciptaan maupun saudara-saudari mereka.
Di atas semua itu, alam membiarkan semuanya tumbuh apa adanya. Burung-burung tidak mengenal sekolah, tidak punya ijazah, tidak memiliki android, tidak memerlukan internet, tetapi kalau bangun pagi selalu terdengar siulan dan nyanyian khas dari mereka.
Baca Juga: Pekan Gawai Dayak 2025! Ini Refleksi Kesempurnaan Kosmik
Pohon-pohon tumbuh tanpa melalui pendidikan formal sebagaimana manusia memahami pendidikan itu. Justru mereka (pohon) telah ribuan tahun melalui pendidikan kosmik dimana keadaan ‘kosmik’ tersebut sebagai gudang pengetahuan murni.
Jika diandaikan, alam semesta ini sudah menyediakan pengetahuan yang tak terbatas – dimana pengetahuan dan akal budi murni pelan-pelan terungkap dalam kondisi kesadaran ‘kealamian’ tersebut.
Dan yang paling penting, mereka semua terpelihara dalam kesempurnaan siklus alamiah alam itu sendiri. Tumbuhan baik dalam air maupun di bawah matahari, menari dan berkembang dalam keheningan, bersama siklus waktunya.
Petuah sakti nan filosofis itu terkandung di janin kekayaan alam bersamaan dengan tuturan petuah orang tua. Manusia yang ‘dilabel’ nama Dayak itu dikenal dengan kedekatan mereka bersama ‘kealamian’ dan pengetahuan kosmik.
Ribuan tahun pengetahuan kosmik itu telah mengakar menjadi kearifan dan kebijaksanaan lokal yang masih terwariskan bersama kesadaraan di abad ini.
Tak lama lagi, Kalimantan Barat - akan merayakan bersama (Pekan Gawai Dayak) 2025. Peristiwa ini menandakan ‘kesadaran’ akan kekayaan pengetahuan alam semesta, juga merupakan salah satu jalan representasi sekunder dengan pertunjukan perayaan kebudayaan setiap tahunnya (Rumah Radangk) Pontianak.
Artikel Terkait
Ketua Panitia Gawai Dayak ke-38 Yulius Aho Sesalkan Perilaku Oknum Pemuda Diduga Mabuk dan Joget di Area Stand Warung Rumah Radakng, Coreng Nama Baik
Seminar Gawai Dayak ke-38 Tahun 2024 Usung Tema Generasi Muda Dayak Terampil, Menjaga Warisan Budaya, Ini DIa Para Narasumber Bahkan dari Malaysia Lho
Gong Berkumandang, Gawai Dayak XI di Sintang Kalbar Resmi Dimulai
Pekan Gawai Dayak ke-39 Rayakan 40 Tahun Kesenian Dayak, Kalbar 2025
Uskup Agustinus Ajak Masyarakat Rayakan Pekan Gawai Dayak XXXIX, dengan Syukur
Pekan Gawai Dayak 2025! Ini Refleksi Kesempurnaan Kosmik