Menyaksikan khas simbol, kode dan makna, meskipun disadari definisi tidak pernah dapat menampilkan dengan sempurna pengertian sesuatu yang dikandungnya, disamping setiap orang selalu berbeda gaya dalam mendefinisikan suatu fenomena.
Baca Juga: Uskup Agustinus Sampaikan Refleksi Kasih dan Pengorbanan pada Misa Kamis Putih di Pontianak
Namun eksistensi dari keberadaan budaya itu –jelas membuka dan mempersembahkan kekayaan ‘alam semesta’ dan bersama kesadaran akan ‘kealamian’ tersebut telah tersedia perpustakaan kosmik yang tak akan pernah habis.
Mari rayakan Pekan Gawai Dayak 2025 ini dengan semangat untuk ‘kembali’ lagi ke rumah kita yang sebenarnya. Bersamaan dengan refleksi tentang kealamian dan kesadaran pengetahuan kosmik tersebut.
Di sana bersama-sama kita merasakan ‘tumpahan’ kekayaan intelektual, keberanian, kesetiaan, stabilitas, keseimbangan hidup dan kehalusan semesta dalam menyapa setiap insan.
Mari kita panggil semangat itu kembali dalam pelukan genetiknya. Sebagaimana yang Uskup Agustinus katakan dalam Audiensi bersama panitia PGD 2025 beberapa waktu lalu, untuk merayakannya dengan ‘Syukur’.
“Betungkaet Ke Adaet, Bepegaet Ke Baso, Besandieh Ke Petaro’ Kuuuuurrr Semungaaet….”
By. Samuel_Koordinator Humas, Publikasi dan Dokumentasi.
Artikel Terkait
Ketua Panitia Gawai Dayak ke-38 Yulius Aho Sesalkan Perilaku Oknum Pemuda Diduga Mabuk dan Joget di Area Stand Warung Rumah Radakng, Coreng Nama Baik
Seminar Gawai Dayak ke-38 Tahun 2024 Usung Tema Generasi Muda Dayak Terampil, Menjaga Warisan Budaya, Ini DIa Para Narasumber Bahkan dari Malaysia Lho
Gong Berkumandang, Gawai Dayak XI di Sintang Kalbar Resmi Dimulai
Pekan Gawai Dayak ke-39 Rayakan 40 Tahun Kesenian Dayak, Kalbar 2025
Uskup Agustinus Ajak Masyarakat Rayakan Pekan Gawai Dayak XXXIX, dengan Syukur
Pekan Gawai Dayak 2025! Ini Refleksi Kesempurnaan Kosmik