Pekan ini juga pengingat, bahwa Dayak dan Kalimantan adalah salah satu sumber awal peradaban manusia—bukan pinggiran, tetapi pusat dari hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, dan komunitas. Saya mau menuliskan ini sebagai refleksi bahwa kita tidak sekedar menghidupkan masa lalu; tetapi kita mengingat sekaligus berpijak sebagai semangat untuk masa depan bijak - kalau kita kembali belajar dari kebijaksanaan leluhur.
Ajakan untuk Hadir
Segenap panitia PGD ke 39 (Kalbar) mengundang Anda bukan hanya untuk hadir, tetapi lebih dalam dari itu yakni ‘datang dan mengalami’. Datanglah tidak hanya dengan kamera, tetapi dengan hati. Rasakan suara, aroma khas dupa, tarian yang semua itu mengalun mengikuti aliran energi alam. Ajak keluarga, teman, atau bahkan diri Anda yang penat untuk datang dan bernapas kembali di ruang yang jujur itu.
Besok, di Rumah Radank Pontianak, PGD ke-39 akan dimulai dengan misa Pembukaan oleh Uskup Agustinus dan itu menandai bahwa acara tesebut bukan hanya acara budaya, itulah bentuk ‘leburan’ - eksistensial menjadi manusia yang lebih utuh, lebih peka, dan lebih damai.
Pekan Gawai Dayak mengajarkan kita hidup dengan lebih selaras. Tidak dengan kekakuan dogma atau superioritas identitas, tetapi dengan kebijaksanaan yang tenang dalam ‘hening’. Kita belajar untuk bertuhan dan berbudaya dengan rileks, dengan nurani yang hidup, dan akal sehat yang jernih.
Karena pada akhirnya, hidup ini adalah petualangan. Pekan Gawai Dayak merupakan salah satu perhentiannya—tempat di mana kita mengingat siapa kita sebenarnya, dalam keheningan dan dentang gong yang bersahut-sahutan. Mari hadir. Mari hayati. Mari jaga warisan ini—bukan sebagai museum, tapi sebagai nadi yang terus berdetak. Semoga!!!