Eksplorasi Etnomatematika dalam Pembelajaran Kontemporer, Mahasiswa San Agustin Terpilih Salah Satu Makalah Terbaik

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Rabu, 3 Juli 2024 | 10:15 WIB
Helbi Tutui (20 Tahun) Mahasiswa San Agustin Ikuti Seminar Nasional. (2024) (Media Center San Agustin )
Helbi Tutui (20 Tahun) Mahasiswa San Agustin Ikuti Seminar Nasional. (2024) (Media Center San Agustin )

PONTIANAKGLOBE.COM, Media Center San Agustin - SANGGAU, Belum lama ini, tepat pada Senin 1 Juli 2022 STKIP Melawi Entikong menjadi tuan rumah bagi Seminar Nasional bertajuk "Studi Etnomatematika: Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Dayak di Kalimantan Barat".

Acara itu dihadiri oleh berbagai pihak penting, termasuk pj Bupati Sanggau, pembina STKIP Melawi Entikong Dr. Muhammad Rifat. M.Pd, Rektor UNU Kalbar, Ketua STKIP Melawi Entikong Septian Petrianus, S.S, M.Hum, serta Ketua STKIP Tanjung Pura Rachmat Dian Nor, M.Pd.

Turut hadir juga lima pemakalah terpilih serta sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.

Seminar hari itu bertujuan utama membahas integrasi elemen budaya dalam pembelajaran matematika, dengan harapan agar nilai-nilai budaya lokal, khususnya budaya Dayak di Kalimantan Barat, tetap terjaga dalam era globalisasi yang kian berkembang.

Pemakalah terpilih, termasuk Helbi Tutui (20 tahun) dari Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, berhasil menyampaikan ide-ide inovatif dalam sesi presentasinya.

Menurut Tutui, seminar itu berfungsi sebagai wadah bagi mereka untuk menyampaikan ide-ide yang telah mereka kembangkan dalam mata kuliah etnomatematika.

Meskipun dosen telah memberikan apresiasi melalui penilaian, seminar itu memberikan penghargaan yang lebih besar. Baginya hal itu dapat memotivasinya lebih jauh dalam kegiatan pembelajaran matematika di kampus.

"Seminar ini sangat penting karena memberikan kesempatan bagi saya untuk memperluas wawasan tentang pengajaran matematika yang berbasis budaya," ujar Helbi Tutui, mahasiswa semester 4 program studi Pendidikan Matematika San Agustinus Hippo dalam wawancara pagi ini, (03/07/24).

Tutui sangat bersyukur dapat terlibat dalam forum itu dan berbagi pemikiran mengenai potensi etnomatematika sebagai alat pelestarian budaya Dayak. Kesempatan itu baginya adalah sebuah simbolisasi dari hobi dan kecintaannya tentang budaya dan matematika.

Tutui, yang berhasil meraih posisi sebagai salah satu dari lima pemakalah terbaik, juga mengekspresikan harapannya terhadap masa depan etnomatematika di kampusnya.

Kehadiran Helbi Tutui dari Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dalam Seminar Nasional itu bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai kontribusi dalam memajukan pendidikan matematika yang berkelanjutan juga berbalut wawasan budaya di Indonesia. Dalam konteks ini adalah Budaya Dayak di Kalimantan Barat.

"Saya berharap agar Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terus memberikan dukungan bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide-ide inovatif mereka, tidak hanya dalam matematika tetapi juga dalam bidang-bidang lainnya,” harapnya, (03/07/24).

Menurutnya pembelajaran berbasis budaya sangat perlu diulik karena sebagai tempat pelestarian budaya dan juga sebagai aplikasi praktis pembelajaran matematika.

Melalui budaya, siswa dapat lebih mudah memahami pembelajaran matematika.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X