investify

Rupiah Tembus Rp17.800! Haruskah Gen Z Panik atau Malah Saatnya Borong Dolar?

Jumat, 29 Mei 2026 | 12:10 WIB
Dollar Amerika serikat terus naik dibandingkan rupiah. Apa yang harus kamu lakukan? (Pexels @kaboompics.com)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Grup obrolan dan lini masa media sosial belakangan ini lagi ramai membahas topik yang bikin dahi mengkerut.

Apa itu? Apa lagi kalau bukan nilai tukar Rupiah jeblok hingga menyentuh kisaran Rp17.800 - Rp17.900 per Dolar AS.

Baca Juga: Ekonomi Kreatif dari Kamar Kos, Anak Muda Pontianak Bisa Dapat Cuan Dolar Lewat Freelance Remote Working

Bahkan netizen sempat heboh karena angkanya sempat mampir di Rp17.845—mirip format tanggal kemerdekaan kita. 

Menteri Keuangan pun sampai berkomentar kalau pelemahan ini sudah "enggak masuk akal" jika melihat fundamental ekonomi kita yang sebenarnya masih oke. 

Tapi bagi kita yang dompetnya pas-pasan, fenomena ini memicu satu pertanyaan besar: Harus panik enggak, sih? Terus, portofolio investasi kita harus diapain?

Dompet Gen Z Menjerit?

Mungkin kamu mikir, “Ah, gue kan jajannya pakai Rupiah, tinggalnya di Indonesia, ngapain pusing?”
 
Jangan salah.
 
Pelemahan Rupiah punya efek domino yang langsung terasa ke gaya hidup anak muda.
 
Baca Juga: Gak Melulu Bisnis Kopi, 4 Lini Usaha Kreatif di Pontianak yang Lagi Ramai ‘Dikuliti# Anak Muda
 
Gadget & Sepatu Hypebeast Makin Mahal: Laptop, komponen PC, HP baru, sampai baju-baju brand luar negeri bakal ikutan naik karena modal impornya membengkak.
 
Biaya Langganan Aplikasi Naik: Siap-siap cek tagihan Spotify, Netflix, YouTube Premium, atau aplikasi game kamu.
 
Perusahaan teknologi global biasanya melakukan penyesuaian tarif kalau mata uang lokal melemah terlalu jauh.
 
Strategi Investify: Panic Selling atau Serbu Dolar?
Di tengah situasi ini, investor pemula sering kali mengambil keputusan impulsif karena takut tabungannya tergerus.
 
Sebagai Gen Z yang cerdas finansial, ini 3 langkah taktis yang bisa kamu lakukan sekarang:
 
1. Jangan Ikut-Ikutan Fomo Borong Dolar
Membeli Dolar AS saat harganya sudah menyentuh rekor tertinggi (all-time high) itu berisiko besar
 
Sebab, jika nanti Bank Indonesia berhasil menstabilkan kurs dan Rupiah menguat kembali, kamu malah berisiko rugi karena membeli di harga puncak.
 
2. irik Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) Berbasis Dolar atau Saham Global
Kalau kamu memang ingin mengamankan aset dalam mata uang asing, alih-alih beli Dolar fisik di money changer, manfaatkan aplikasi investasi legal untuk membeli reksa dana pasar uang berbasis USD atau reksa dana indeks global.
 
Jauh lebih praktis dan likuid.
 
3. Amankan dengan Emas Digital
Emas adalah instrumen pelindung nilai (hedging) terbaik saat mata uang sedang tidak stabil. 
 
Ketika Rupiah melemah, harga emas dalam negeri biasanya justru merangkak naik.
 
Ini saat yang tepat untuk rutin menyisihkan uang recehmu ke emas digital. 
 
Kesimpulannya, Dolar boleh saja naik, tapi konsistensi investasimu jangan sampai turun.
 
Alih-alih panik melihat berita makro, fokus saja pada apa yang bisa kamu kendalikan: kurangi pos belanja impulsif, amankan dana darurat, dan tetap berinvestasi sesuai porsi kemampuan dompetmu. ***

Tags

Terkini