The Cry for Peace, Perdamaian Syarat Mutlak dan Satu-satunya Jalan Menuju  Kesejahteraan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 3 November 2022 | 15:23 WIB
Padre Marco SVD bersama Kardinal Louis Sako, Patriarkat Ur-Khaldea, Irak dan sekretarisnya. (IST/Pontianak Globe)
Padre Marco SVD bersama Kardinal Louis Sako, Patriarkat Ur-Khaldea, Irak dan sekretarisnya. (IST/Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, ROMA -- Di tengah krisis perdamaian, di tengah gelombang kebencian dan balas dendam, Minggu malam, 23 Oktober 2022 waktu Roma, para petinggi agama seluruh dunia dan otoritas pemerintahan di Roma berkumpul bersama untuk membaharui tekad perdamaian, di bawah judul "The Cry for Peace" (Il Grido della Pace" - Rintihan Perdamaian).

“Para pembicara sepakat bahwa perdamaian adalah syarat mutlak dan satu-satunya jalan menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama. Agar bisa hidup damai, dibutuhkan kesediaan untuk mengampuni, berani mengalah,dan mengembangkan budaya dialog, budaya kerjasama, budaya pertemuan, dan saling mengenal serta memahami dalam suasana penuh rasa hormat, dan semangat resiprositas (timbal-balik),” tutur Romo Markus Solo Kewuta SVD, dalam keterangannya yang diterima pada Senin malam, 24 Oktober 2022.

BACA JUGA: Bedakan Kelima Jenis dan 4 Warna Plat Nomor Kendaraan yang Akan Segera Diberlakukan

BACA JUGA: 10 Fighter Muslim terbaik, Nomor 6 Saudara Khabib

Padre Marco SVD, demikian satu-satunya pejabat Takhta Suci Vatikan asal Indonesia, menyebutkan pertemuan tersebut juga dihadiri antara lain Presiden Italia Sergio Mattarella, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Sekjen Liga Muslim Sedunia Muhammad Bin Abdul Karim Al-Isa, Tokoh Yahudi Prancis Haim Korsa, Pendiri Sant Egidio Dr Andrea Riccardi, Ketua Konferensi Uksup Italia, Kardinal Matteo Zuppi.

Hadir juga delegasi Muslim Indonesia yakni Prof Din Syamsuddin dari Muhammadiyah dan KH Marsyudi Suhud, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Agama harus menjadi bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah,” ujar Presiden Mattarella menggarisbawahi pernyataan Paus Fransiskus di dalam pidatonya.

Mattarella, sebut Padre Marco, juga menegaskan bahwa tidak ada perang suci. Yang ada adalah perdamaian yang suci.

BACA JUGA: Prediksi Real Sociedad vs Manchester United. Susunan Pemain Live Streaming hingga Live Scor. MU Siap Kudeta?

Presiden Macron pada gilirannya memberikan motivasi dan semangat harapan kepada dunia dengan menyimpulkan bahwa sekalipun banyak tantangan dan kesulitan, perdamaian selalu mungkin. “Butuh keberanian dan tidak boleh putus asa,” ucap Macro, seperti dikutip Padre Marco.

Program "The Cry for Peace" kali ini berlangsung 3 hari dengan banyak seminar dan berakhir dengan Doa Bersama di Colosseum yang dihadiri oleh Paus Fransiskus.

Menurut Padre Marco, ada hal yang menarik dalam acara Minggu malam tersebut, adalah kesaksian nyata Olga Makar, seorang gadis Ukraina yang luput dari gempuran kota Kiev pada masa agresi Russia ke Ukraina beberapa saat lalu.

BACA JUGA: Jangan Sampai Ketinggalan Avatar 2 The Way Of Water Tayang Desember 2022. Berikut Ulasannya

“Kesaksiannya disambut tepuk tangan meriah oleh ribuan hadirin di dalam aula besar itu, pertanda dukungan mereka terhadap perdamaian di Ukraina,” ungkap Padre Marco.

Padre Marco menjelaskan bahwa acara tersebut  diselenggarakan oleh Gerakan awam Katolik Sant Egidio yang berbasis di Roma, yang menyelenggarakan acara yang sama setiap tahun pada bulan Oktober.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X