inter-nasional

Sriwijaya Janji Jawab 6 Tuntutan Keluarga Korban Jatuhnya SJ 182 Paling Lama 30 November 2022

Jumat, 11 November 2022 | 23:44 WIB
Slamet Bowo Santoso satu di antara keluarga korban Sriwijaya Air 182 yang ikut mendatangi kantor Sriwijaya di Tangerang pada Jumat 11 November 2022 (tim pontianak globe 03)

Para keluarga korban menuntut hak tersebut sesuai rekomendasi Komisi V DPR RI agar dana santunan tersebut bisa dititipkan ke pengadilan atau pihak ketiga seperti perbankan.

Tak hanya itu, pihak keluarga korban juga turut menggugat Boeing Company Amerika yang tidak mengganti spoiler atau bagian sayap Sriwijaya Air SJ182 sejak 2012 sehingga diduga terjadi insiden tersebut.

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan hasil investigasi mereka terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak yang terjadi pada 9 Januari 2021.

Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo dalam paparannya menyampaikan 6 penyebab jatuhnya pesawat jenis Boeing 737-500 dengan registrasi PK-CLC tersebut:

1. Perbaikan sistem auto-throttle belum sampai bagian mekanikal.

Diketahui, throttle adalah tuas untuk mengatur tenaga yang dikeluarkan mesin di pesawat.

kecelakaan Sriwijaya Air SJ182 disebabkan kerusakan pada bagian mekanikal, bukan pada sistem komputer pesawat.

Baca Juga: Gunung Merapi Batuk, Sudah Dua Kali Muntahkan Awan Panas

2. Thrust lever kanan tidak berfungsi setelah ada permintaan autopilot dari cockpit. 

Nurcahyo mengatakan kondisi itu terjadi akibat gangguan pada sistem mekanikal.

Akibatnya, thrust lever kiri mengompensasi dengan terus bergerak mundur sehingga terjadi asimetri atau perbedaan antara tenaga mesin sebelah kiri dan kanan.

"Thrust lever kanan tidak mundur seusai permintaan autopilot karena hambatan pada sistem mekanikal dan thrust lever kiri mengkompensasi dengan terus bergerak mundur sehingga terjadi asimetri," jelas Nurcahyo.

3. Cruise Thrust Split Monitor (CSTM) terlambat memutus auto-throttle pada saat pesawat terjadi asimetri.

Menurut Nurcahyo, setelah asimetri, CTSM mestinya bisa menonaktifkan auto-throttle.

Namun, yang terjadi justru CTSM terlambat menonaktifkan auto-throttle sehingga pesawat mendadak berbelok ke kiri.

4. Pilot terlalu percaya pada sistem otomatisasi.

Akibatnya, pilot kurang memonitor instrumen pengendalian pesawat yang menyebabkan pesawat kehilangan kendali.

Baca Juga: Update Sidang Ferdy Sambo: Seorang Saksi Ungkapkan Sifat Asli Sambo dan ART yang Akui Tak Tahu Ada Pelecehan

Halaman:

Tags

Terkini