Mai te ngigel ( Datang ke sini untuk menari)
Mebanten penjumlahan keladi (Menawarkan kue pisang dan talas rebus)
ane kengken kayun idewa (Apa yang sebenarnya kamu inginkan?)
Adi tusing mengelah padi (Kenapa kamu tidak punya padi?)
titiang niki petani desa (Kami adalah petani pedesaan)
Liriknya mencerminkan renungan, sebagai petani, pangan mereka harus tersedia.
Menumbuk padi adalah bagian dari kehidupan perempuan pedesaan di Bali. Mereka bersama-sama melakukannya untuk memproses beras.
Aplikasi seluler waktu nyata sebagai solusi untuk masalah petani
Dirjen FAO kemudian mengunjungi proyek FAO tentang e-agriculture yang menampilkan penggunaan aplikasi ponsel di bawah program Digital Village Initiatives (DVI) unggulan FAO. Ditjen FAO menyaksikan demonstrasi aplikasi seluler dan sistem dasbor untuk mengumpulkan data real-time dan komprehensif dari aktivitas pertanian di area tersebut.
Aplikasi mobile membantu penyuluh dalam mengumpulkan data terintegrasi dari lapangan bekerja sama dengan produsen kopi di Pajahan, Bali dan petani padi di Yogyakarta, Jawa Tengah.
Data yang terkumpul terhubung langsung dengan Agricultural War Room (AWR), ruang kontrol digital di Kementerian Pertanian di Jakarta, memantau pekerjaan dan situasi petani di tingkat pusat.
FAO juga telah membantu Kementerian Pertanian Indonesia dalam mengembangkan Strategi E-Pertanian Nasional yang komprehensif, yang berfokus pada panduan integrasi data pertanian untuk meningkatkan pertanian digital di negara ini.
Vaksinasi Rabies Massal
Sebagai tujuan akhir dari kunjungan lapangan, Dirjen mengunjungi vaksinasi Rabies massal di balai desa, di Balai Banjar Belah, Desa Luwus, Tabanan dan berpartisipasi dalam perayaan Hari Rabies Sedunia bersama dengan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Ditjen FAO berinteraksi dengan dokter hewan lokal Bali dan anak-anak sekolah.