Indonesia memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa dengan resep-resep makanan unik mereka sendiri.
Banyak resep yang dilupakan karena produksi makanan secara massal dan ketergantungan pada tradisi lisan untuk mewariskan resep dari generasi ke generasi.
Melalui AFCP, Nusa Gastronomy Foundation melestarikan warisan dan praktik kuliner tradisional Indonesia dengan mendokumentasikan resep asli, sekaligus melestarikan praktik kuliner, resep, dan tradisi yang menopang identitas budaya Indonesia yang beragam.
Program ini juga berupaya memberdayakan pemilik bisnis lokal perempuan dan menyoroti hubungan antara tradisi makanan lokal dan praktik pertanian berkelanjutan.
Pusaka Rasa Nusantara merupakan proyek pertama dalam 20 tahun sejarah AFCP yang berfokus secara khusus pada pelestarian warisan kuliner dan tradisi makanan.
Tim Pusaka Rasa Nusantara bermitra dengan kementerian, pemerintah daerah, media nasional dan daerah, pecinta kuliner, komunitas lokal, pemengaruh, dan penggemar gastronomi.
Komunitas “Penjaga Rasa” yang baru saja dibentuk oleh Pusaka Rasa Nusantara menjadi tempat bagi para penjaga resep tradisional untuk berbagi cerita dan tantangan.
Hingga saat ini, penelitian Pusaka Rasa Nusantara telah membawa tim ke seluruh nusantara, termasuk ke Kabupaten Sula di Maluku Utara, Yogyakarta, dan Padang, dan akan dilanjutkan dengan lokasi-lokasi termasuk Sumba, Kalimantan, dan Belitung.
Kedutaan Besar AS dan Nusa Gastromony Foundation meluncurkan Pusaka Rasa Nusantara pada November 2021, bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan, sebagai bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional.
Pada peluncuran tersebut, Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Y. Kim mengatakan, “Seiring kita membangun kembali dengan lebih baik setelah pandemi COVID-19, kita merayakan elemen-elemen penting dalam hidup kita yang menopang dan merawat kita -- dan cara-cara manusia mengekspresikan identitas saat memenuhi kebutuhan dasar.”
Acara jamuan di Yogyakarta juga menampilkan pertunjukan oleh sejumlah figur Indonesia yang pernah mengikuti pertukaran dan program pemerintah AS:
Peni Candra Rini, yang menerima hibah OneBeat Accelerator setelah mengikuti pertukaran OneBeat pada 2014 untuk proyeknya “Kinanthi Kunci Ati,” serangkaian komposisi dan aransemen asli gamelan tradisional yang ditulis untuk kuartet alat musik gesek.
Papermoon Puppet Theatre, peserta program Center Stage yang disponsori AS pada 2012, yang berbasis di Yogyakarta dan menggunakan boneka untuk menciptakan pertunjukan multimedia yang memantik dialog antara penonton dan seniman.
Nalitari, sebuah organisasi tari inklusif yang berbasis di Yogyakarta, yang berawal dari lokakarya Kedutaan Besar AS pada 2013, dan membantu anggota komunitas penyandang disabilitas bersatu dan mengekspresikan kreativitas melalui seni tari.