Ia adalah seorang puteri dari guru SMP Xaverius.
Menurut Titiek Khamdani Xaverius dibanding dengan sekolah-sekolah lain adalah kedisiplinan, tata krama dan non diskriminasi.
Selain itu, reward and pusnishment selalu menjadi indikator dari perilaku anak didik.
“Yang tidak disiplin dan terlambat masuk sekolah ya akan menanggung akibatnya sebagai bentuk tanggung jawab yang harus dipikul oleh anak didik,“ ujar Titiek.
BERSYUKUR
Beberapa alumni bersyukur dan berterimakasih kepada SD Xaverius, Pringsewu, Lampung.
Meski berada di daerah belum berkembang, Pringsewu yang waktu itu merupakan kota kecamatan kecil, ada lembaga pendidikan dasar yang cukup bermutu dengan menanamkan dasar nilai berguna bagi kehidupan mereka dalam masyarakat di kemudian hari.
Awie panggilan akrab Wiryanto Yudris adalah alumnus SD Xaverius yang sekarang Bernama SD Fransiskus pada 1975.
Dirinya merasa bangga menjadi salah satu alumnusnya.
Sekolah ini, menurut Awie telah banyak berkarya dalam memajukan dan meningkatkan kualitas masyarakat Pringsewu.
Dan kualitas itu dibawa para alumni berkarya di berbagai kota di Indonesia.
Ia berharap bahwa pemerintah setempat mau bekerjasama dengan alma maternya untuk mempersiapkan generasi baru demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Ia harus bersyukur karena meski merupakan sekolah Katolik, SD Xaverius pada waktu itu telah menanamkan nilai pluralisme kepada para muridnya yang terdiri dari berbagai strata sosial, agama dan etnis.
Ketika sekolah, para murid bersatu dan menyatu sebagai Indonesia kecil yang indah, tanpa diskriminasi oleh apapun.
Terwujud nilai solidaritas tanpa kamar di antara para murid.