Ia menjelaskan bahwa sekolah ini dikelola sepenuhnya oleh relawan, termasuk para ibu di sekitar lingkungan yang mengajar tanpa menerima gaji.
Sekolah ini memiliki PAUD sebanyak 75 anak. SD Kelas 1-3 sebanyak 75 siswa dan SD Kelas 4-6 sebanyak 45 siswa.
Kemudian SMP sebanyak 22 siswa, Santri Pondok Tahfiz sebanyak 60 anak dari kalangan dhuafa dan pemulung, serta SMK sebanyak 8 siswa.
Hamsyiati juga mengungkapkan bahwa salah satu alumni sekolah telah berhasil meraih gelar sarjana psikologi dan kembali mengabdi di sekolah ini.
"Kami juga memberikan beasiswa bagi lulusan SMA/SMK yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi," ujar Hamsyiati.
Sekolah Alam Tunas Mulia merupakan contoh nyata bahwa pendidikan berkualitas dapat hadir di mana saja.
Selain pendidikan formal, sekolah ini juga menanamkan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
Lingkungan sekolah dilengkapi fasilitas seperti mushola kecil hasil sumbangan donatur, yang digunakan untuk kegiatan keagamaan. Operasional sekolah didukung oleh bantuan dari donatur individu, swasta, dan instansi.
"Sekolah ini adalah bukti bahwa dengan kepedulian, kita dapat memberikan masa depan lebih baik bagi anak-anak," tutur Setia Untung.
Setia Untung mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan sosial serupa.
"Mari bersama-sama membantu anak-anak Indonesia membangun masa depan yang lebih cerah," ajaknya.
Acara ini juga dihadiri sejumlah pengurus KBPA, termasuk Sri Harijati P., Erbindo Saragih, Sucipto, dr. Hendra, Sadono, dan Rostyana Sebayang, yang turut mendukung kelancaran kegiatan baksos ini. ***