Sebagai contoh, AI dapat memantau turbin angin atau panel surya untuk mengoptimalkan outputnya dan mencegah kerusakan, memastikan kota mendapatkan manfaat maksimal dari sistem energi hijau mereka.
Mencapai Skalabilitas Solusi Menurut Ichwan, salah satu keuntungan terbesar dari solusi berbasis AI adalah skalabilitasnya. "Startup dan pengusaha muda menciptakan alat AI yang dapat dengan mudah diadaptasi ke berbagai lingkungan perkotaan," tuturnya.
Kolaborasi untuk Kota yang Lebih Cerdas dan Hijau Ichwan menekankan bahwa potensi penuh AI dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, bisnis, dan startup. "Bersama, kita bisa menciptakan kota yang lebih cerdas, hijau, tangguh, dan layak huni bagi generasi mendatang," pungkasnya.
Pembicara Lainnya Selain Ichwan, pembicara lainnya dalam panel diskusi ini termasuk Ma Yujun, Walikota Shijiazhuang (China); Jo Kyoo Il, Walikota Jinju City (Korea Selatan); dan Zhang Fulu, peneliti dari Akademi Ilmu Sosial Henan. Pertemuan ini dipandu oleh moderator Stephany Uy Tan, anggota Dewan Legislatif Kota Catbalogan, Filipina.
Perlu diketahui bahwa pertemuan UCLG ASPAC di Zhengzhou bertema “Innovation-Driven Regional Collaboration: Building a Green, Digital, and High-Tech Urban Future” berlangsung pada 21-25 Oktober 2024, dihadiri 70 pemerintah daerah dari 13 negara. ***