inter-nasional

Guido Ungkap Keanehan saat Syuting Video Klip Nyeker ke Hutan Belantara, Tidak Terluka Sedikit pun

Selasa, 24 September 2024 | 18:47 WIB
Guido menulis lirik lagu Ro Jo Hamu pada selembar karton saay rekaman video klip di kawasan tanah adat Sihaporas, Kecamatan Pematangsidamanik, Kabupaten Simalaungun, Sumatera Utara, 27 Agustus 2024. (Foto Dokumentasi Lamtoras/Putri Ambarita)

Mereka dikarunia 3 anak. Sejak lahir sampai tumbuh kembang, istri pertama hidup rukun dan turun merawat anak-anak istri kedua. Tiga anak mereka dinamai Ompu Sohailoan Ambarita (sulung), Ompu Jaipul Ambarita (penengah) dan Ompu Sogara (bungsu), yang kemudian merantau ke Motung, Kabupaten Toba.

Bagi orang batak yang sudah punya keturunan, pantang atau tabu memanggil nama kecil. Belakangan Martua Boniraja memiliki nama sapaan Ompu Mamontang Laut (Ompu si penyeberang danau/laut). Ia berinteraksi dengan Tuan Sipolha marga MAnik/Damanik), Raja Siantar marga Manik/Damanik dan Tuan Tanah Jawa (marga Sinaga). Mereka berempat berjumpa membahas batas-batah wilayah. Dalam satu kesempatan, mereka bersumpah di lokasi yang disebut Batu Sidua-dua, titik perbatasan tuan Tanah Jawa dengan Tuan Sihaporas.

Baca Juga: Tangani Korban Gempa di Kabupaten Bandung, IDI Turunkan 40 Dokter dan Perawat

Marga dua istri Ompu Mamontang Laut itu sama dengan kru yang dibawa Guido, yakni marga Sinaga dan marga Saragih. Boru Sitio masuk kelompok marga parna, atau saragih.


Sejarah dan Makna Lagu

Guido menceritakan kisah seorang temannya, bukan sesama kru Band Punxgoaran. Ia cerita bahwa pohon pembatas di lokasi tanah adat Sihaporas ditebang supaya pihak TPL tidak menyerang masyarakat Sihaporas.

“Jadi, aku semakin penasaran, ini tempat apa gitu. Aku tidak pernah tahu problematika yang dihadapi Sihaporas, dengan TPL. Aku tidak pernah tahu gitu. Aku hanya cuma datang ke situ melihat, dan mendengar bahwa ada yang ditangkap (polisi) pada malam hari, (22 JUli 2024 pukul 03.00 WIB). Aku ga pernah mendengar hal begini. Dan aku bertanya kenapa bisa ada komunitas Batak yang menderita gitu? Karena setahu aku komunitas Batak selalu berpegangan ya, kalau ada yang susah paling satu atau dua tiga keluarga.”

Ini lain halnya, satu komunitas Sihaporas itu merasa ketakukan dan tertindas. Itulah alasannya, Guido berpikir apa yang bisa dia bantu? “Pikirku. Karena aku nggak bisa melawan PT TPL, karena itu merupakan perusahaan raksasa. Jadi aku menciptakan sebuah karya yang bagaimana seluruh masyarakat bangso Batak bisa melihat keadaannya di situ. Karena jika kita semua sama-sama melihat, Bangso Batak melihat, pasti kita semua bisa mengambil sebuah kesimpulan. Semakin kita angkat semua cerita, mungkin bisa diputarbalikkan faktanya.
Lain halnya , kalau kita datang dan melihat masyarakat Sihaporas, dan menyaksikan sendiri, pasti kita dapat memberikan solusi terbaik,” ujar Guido.


“Kenapa memilih syuting vide klip Ro Jo Hamu di Sihaporas?” tanya wartawan. “Karena di situ adalah baraknya mereka. Tempat mereka bercerita, dan biar sesuai dengan apa yang kunyanyikan dan ku inspirasikan related dengan keadaan. Dan tidak mungkin kita menggunakan lirik-lirik yang kontroversi atau lirik yang propokatif. Nggak bisa lagi begitu. Aku merasakan gak bisa begitu lagi, tidak bisa lagi dengan lemah-lembut. Sama kayak mamak-mamak gitu, jika melawan ya ‘telanjang' aja gitu. Telanjang apa? Bukan telanjang begitu.

“Yaa begitu juga, dengan sebuah karya, kita juga harus bisa melawan dengan kejujuran dan keihklasan, supaya bisa membuktikan terkait 'Tega Lu Ya!’”

Soal konsep dan lirik lagu, sepenuhnya karya Osen Hutasoit. “Aku hanya bisa menceritakan apa yang kurasakan. Dan Osen menulis liriknya,” ujar Guido. ***

Halaman:

Terkini