inter-nasional

Guido Ungkap Keanehan saat Syuting Video Klip Nyeker ke Hutan Belantara, Tidak Terluka Sedikit pun

Selasa, 24 September 2024 | 18:47 WIB
Guido menulis lirik lagu Ro Jo Hamu pada selembar karton saay rekaman video klip di kawasan tanah adat Sihaporas, Kecamatan Pematangsidamanik, Kabupaten Simalaungun, Sumatera Utara, 27 Agustus 2024. (Foto Dokumentasi Lamtoras/Putri Ambarita)

Menurut catatan Guru Sekolah Adat Lamtoras Sihaporas, Putri br Ambarita, Guido dan kawan pertama kali berkunjung ke Sihaporas 25 Juli 2024. Atau tiga hari berselang setelah terjadi penangkapan lima warga setempat dari gubuk perjuangan tanah adat.

Baca Juga: Pasangan NKRI Nomor Urut 2, Ria Norsan Sebut Lambang Kemenangan dan Kedamaian di Kalbar

“Jadi, kenapa aku bilang seperti ada gitu yang menggerakkan? Karena dari situasi atau misalnya dari strategi-strategi aku membuat lagu, aku tidak terlalu pintar berdilektika untuk mengarang lagu, apalagi tentang lagu batak.”

Keesokan hari setelah melalukan perjalanan ke Desa Sihaporas, tiba-tiba Osen Hutasoit, pencipa lagu, menepati janjinya kepada Guido, yaitu membuatkan lagu yang pernah dijanjikannya setahun yang lalu. Lagu ini sangat menceritakan tentang kegelisahaan orang-orang Batak di kampungnya yang tertindas. “Tiba-tiab dia mengirim lagu itu. Dan ku pikir, lagu (Ro Jo Hamu) ini terinspirasi oleh penderitaan mereka,” kata Guido.

Guido masih bagian personel Band Punxgoaran. Namun untuk Ro Jo Hamu,dia tergerak untuk sendiri aja.

“Pada saat nyanyi solo ini, aku mengajak 2 teman ku yang merupakan komposer lagu. Setelah lagu jadi, di saat pembuatan video klip, kita berkunjung ke kuburan (Makam) Ompu Mamontang Laut Ambarita (Tuan SIhaporas). Ternyata Ompu Mamontang Laut punya dua sitri. Kedua Istri Ompu Mamontang Laut semarga dengan dua orang komposer lagu tadi, Sinaga dan Sitio (Saragih). Aku heran, kenapa semua berhubungan dengan apa yang aku bawa,” ujarnya.

Lelaki kelahiran Pematangsiantar ini mengaku suka memberikan tantangan pada diri sendiri. Ia berusaha menjawab sesuatu yang ia sanksikan. Dia ragukan.

“Pada saat aku masuk ke hutan atau melihat ritual ritual budaya yang ada di Sihaporas, aku mencoba untuk kaki ayam (nyeker, tanpa alas kaki), tanpa memakai sepatu atau sandal. Kenapa? Karena aku berpikir, benar nggak ya, aku dijagain? Jawabannnya benar. Pada saat aku masuk ke dalam hutan, yang belukarnya luar biasa, tak satu pun ada duri melukai badan maupun kaki ku. Bahkan, satu biji pasir pun tidak ada yang kurasakan sakit terkena kakiku,” kata Guido yang bersama band Punxgoaran menulis dan memopulerkan lagu Sayur Kol.

Ia melanjutkan, “Biasanya jika kita masuk ke hutan, kita pasti tertusuk duri. Ini sama sekali tidak ada. Inilah yang kurasakan, dan aku bisa pastikan bahwasanya situasi di tempat itu menjaga aku,” katanya.

Demikian juga saat berencana membaut video klip. “Kami disambut masyrakat Sihaporas, seperti memperlakukan raja. Saat untuk membuat konten pribadi, membuat single, saya tidak pernah merasakan hal aneh seperti itu. Saya bisa jamin, ini bukan gimmick ya. Sungguh luar biasa. Kemudian saya mengunggah lagu single pertamaku ini pada akun YouTube mulai dari nol, baru satu hari sudah 156 subscriber dan penonton lebih dari seribu viewers. Ini luaar biasa. Itulah kisah di balik single,” kata Guido.

Guido juga menuturkan, merasakan campur tangan Tuhan. “Saya merasakan seperti dituntun. Dan sampai hari ini, merasa seperti dituntun pada diemensi baik. Untuk tetap menyuarakan kebenaran. Konsisten berjuang. Semacam ada ucapan, ‘tenang kau. Adanya rezekimu. Tidak usah kau kreativas seperti apa, tetapi kreativitas yang membawa kemerdekdaan. Soal masa depan, atau perut, tidak usah kau takutkan. Apakah ini terkait dengan dengan Ompu Mamantang Laut, aku nggak tahu. Tapi memang, banyak orang yang bilang, aku punya khodam (roh penjaga).


Dikisahkan Ketua Umum Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) Mangitua Ambarita, ratusan tahun lalu, Martua Boniraja Ambarita meninggalkan kampungnya di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Ia trauma melihat Johana Naera br Ambarita, adiknya, dikubur hidup-hidup orang ibu kandung korban. Sang ibu menyuruh Naera menjaga padi menguning di ladang. Namun ia kelaparan dan tertidur.

Ibunya marah lalu memaksa putri menggali lubang, yang menjadi liang kubur Naera. Seluruh badan terkubur, sisa leher dan kepala di perkuaan tanah, hanya . Sebelum wafat, Naera dijumpai seakrat oleh Martua Boniraja. Ia menanyakan apa musabab kekejian terhadap adik perempuannya. Singkat cerita, sebelum menyampaikan permintana terakhir, nasi kuning dan telur ayam kampung masak, Naera meminta abangnya pergi jauh, sebab terancam akan dibunuh juga.

Lalu pergilah Martua Boniraja bertapak ke Pusik Buhit. Tujuh hari berlalu, dari sana kemudian menyeberangi Danau Toba menuju Dolok Mauli, dekat Sipolha. Setelah bertemu tak sengaja dan kenalan dengan Tuan Sipolha marga Manik/Damanik, ia kemudian ‘mamukka huta’/mendirikan perkampungan di Sihaporas.

Martua Boni Raja menikahi gadis Boru Sinaga dari Buttu Pasir, Panahatan, tepi Danau Toba arah Parapat. Lama berumah tangga, tidak mendapat keturunan. Pasangan suami istri sepakat agar punya keturunan. Martua Boniraja pun menikahi gadis Boru Sitio dari Kecamatan Simanindo di Pulau Samosir.

Halaman:

Terkini