inter-nasional

WiME dan Kalaway Dorong Lintas Generasi Bicara Perubahan Iklim Indonesia

Rabu, 24 Juli 2024 | 19:46 WIB
Peluncuran keanggotaan WiME Indonesia di Jakarta (20/7) (Dok. Pontianak Globe)

Dalam rencana percepatan, pada Agustus 2024, pemerintah Indonesia akan merevisi target pengurangan sebesar 31,89 persen dengan usaha sendiri, dan 43,20 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Baca Juga: Kesalahan Fatal Mematikan Mesin Mobil, Bikin Boros dan Cepat Rusak!

Peneliti Kalaway Institute Jouhannes Faidiban mengatakan perubahan iklim bukanlah sebuah ancaman jangka panjang dan juga bukan konsep abstrak yang terbatas dalam jurnal ilmiah maupun perdebatan politik.

Krisis iklim adalah sebuah kenyataan yang telah mengubah lanskap, mengubah cuaca, dan menjadi ancaman ekosistem bumi kita.

“Kaum muda yang bekerja di sektor tambang dan energi, di tangan kalian terdapat pilihan. Apakah kalian terlibat dalam penghancuran alam dengan praktek-praktek usang yang memprioritas keuntungan atau menjadi agen perubahan dengan menerima tantangan berkelanjutan dan menjadi pemimpin dalam transisi menuju masa depan yang lebih adil dan regeneratif,” kata Faidiban.

Direktur WiME Indonesia, Noormaya Muchlis menyampaikan, diskusi perubahan iklim perlu jembatan untuk estafet lintas generasi sehingga terjadi dialektika.

Baca Juga: Skandal Pengujian Sertifikasi Mengguncang Industri Otomotif Jepang: Toyota, Honda, Mazda, Suzuki, dan Yamaha Terdampak

"Kami ingin mendengar langsung dari anak muda, bukan saja tentang pemahaman mereka tentang perubahan iklim, tetapi juga konsep dan peran yang telah dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. Hasil diskusi tadi sangat jelas, di mana teman-teman muda saling berkolaborasi menjaga alam dari krisis iklim," tambah Noormaya.

Alan Firmasyaah, Plt. Direktur KALAWAY Insitute menjelaskan bahwa acara berlangsung sekitar 5 jam diawali dengan pemeriksaan kesehatan, pemaparan konsep dengan metode TED Talks, peluncuran keanggotaan WiME dan dimeriahkan penampilan akustik dan puisi.

TED Talks sendiri diisi oleh Jouhanes Faidiban (Researcher Kalaway Institute), Hidayatul Mustafidah (WiME Indonesia), Indra Dwi Prasetyo (Youth & Education Enthusiasts), Dr. Alni Magdalena (Heyva), Abi Sutanrai (Presiden Bangun Kota), Yuanita Budiman (Global Future Fellows, Pijar Foundation) dan Khoiria Oktaviani (Strategic Communication Manager Kementerian ESDM RI).

Baca Juga: 14 Surga Tersembunyi di Singkawang: Jelajahi Keindahan Pantai, Danau, dan Budaya

Perlu diketahui Yayasan Perempuan di Tambang dan Energi Indonesia (PERTAGI) atau yang lebih dikenal dengan jenama Women in Mining and Energy (WiME) Indonesia mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam sektor energi dan pertambangan di Indonesia.

WiME Indonesia mendorong kerjasama antara perusahaan, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk pengarusutamaan gender dengan melakukan edukasi dan advokasi. ***

Halaman:

Tags

Terkini