inter-nasional

Kontroversi Dirty Vote: Fakta, Fiksi, dan Dampak Politik

Senin, 12 Februari 2024 | 23:23 WIB
9 Catatan Film Dirty Vote yang Bikin Panas Dingin (Twitter-@DirtyVote )

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Menyambut hari pemilihan umum pada tanggal 14 Februari, sebuah koalisi masyarakat sipil merilis sebuah film dokumenter yang mengulas desain kecurangan dalam pemilu.

Film berjudul 'Dirty Vote' tayang pada Minggu, 11 Februari 2024, memilih momentum 11.11, yaitu tanggal 11 Februari yang bertepatan dengan hari pertama masa tenang pemilu, dan disiarkan pukul 11.00 WIB di kanal YouTube.

Baca Juga: Apa Itu Perayaan Cap Go Meh? Begini Sejarah dan Maknanya yang Kamu Harus Tahu

Dirty Vote adalah sebuah film dokumenter eksplanatori yang disampaikan oleh tiga ahli hukum tata negara yang menjadi bintang dalam film ini.

Mereka adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.

Ketiganya menjelaskan berbagai instrumen kekuasaan yang telah digunakan untuk memenangkan pemilu, bahkan jika prosesnya melanggar dan merusak tatanan demokrasi.

Penggunaan kekuasaan yang kuat dengan infrastruktur yang memadai, tanpa rasa malu dipertontonkan secara terang-terangan di depan rakyat untuk mempertahankan status quo.

Penjelasan ketiga ahli hukum ini didasarkan pada sejumlah fakta dan data, serta diuraikan dengan analisis hukum tata negara.

Menurut Bivitri Susanti, film ini merekam sejarah tentang rusaknya demokrasi pada suatu saat di mana kekuasaan disalahgunakan secara terang-terangan oleh orang-orang yang dipilih melalui proses demokrasi itu sendiri.

Film ini tidak hanya berbicara tentang hasil penghitungan suara, tetapi juga tentang apakah proses pemilu secara keseluruhan dilaksanakan dengan adil dan sesuai dengan nilai-nilai konstitusi.

Baca Juga: Contoh Kata Sambutan Ketua Panitia Perayaan Cap Go Meh Tahun 2024, Jangan Lupa Singgung Jasa Besar Gus Dur

Feri Amsari menambahkan bahwa esensi dari pemilu adalah cinta terhadap tanah air.

Membiarkan kecurangan merusak pemilu sama dengan merusak bangsa ini.

Dia juga menekankan bahwa setiap kekuasaan memiliki batasnya, dan kekuasaan yang baik adalah yang bekerja untuk rakyat, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau keluarga.

Dokumenter Dirty Vote disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono, yang merupakan film keempatnya yang dirilis menjelang pemilu.

Halaman:

Tags

Terkini