Johan Muhammad, peneliti Pusat Antariksa di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa dampak di Indonesia mungkin tidak sebesar daerah di lintang tinggi, mengingat letak geografisnya yang berada di khatulistiwa.
Namun, Johan menegaskan bahwa Indonesia tidak benar-benar bebas dari dampak. Cuaca antariksa dapat mengganggu sinyal radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit di Indonesia.
Gangguan ini dapat merugikan komunikasi antar pengguna radio HF dan mengurangi akurasi penentuan posisi navigasi berbasis satelit seperti GPS.
Selain itu, ada potensi gangguan pada teknologi satelit dan dampak terhadap jaringan ekonomi global.
Johan menekankan bahwa meskipun tidak ada istilah "kiamat badai Matahari" dalam konteks ilmiah, kita perlu memahami prosesnya dan berusaha memitigasi dampak negatif semaksimal mungkin. ***
Baca Juga: Real Madrid Bungkam Villarreal 4-1, Geser Girona dari Puncak Klasemen