PONTIANAKGLOBE.COM, CAFE TOWN -- Pada 10 November, 78 tahun yang lalu, Surabaya menjadi saksi dari pertempuran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pertempuran ini, yang berlangsung selama tiga minggu, dipicu oleh arogansi sekutu, khususnya Inggris, yang memicu kemarahan rakyat Indonesia yang baru saja merdeka.
Sekutu, yang keluar sebagai pemenang Perang Dunia II, berusaha memulangkan tentara Jepang, membebaskan pasukan tawanan mereka, dan mengamankan keadaan di Indonesia setelah penyerahan diri Jepang.
Mereka mendukung Belanda dengan mengirim pasukan Allied Forces Netherland East Indies, setuju untuk membantu Belanda mengembalikan kekuasaannya di Indonesia (Civil Affair Agreement, 24 Agustus 1945).
Tindakan kontroversial Belanda, seperti menaikkan bendera di Hotel Yamato pada 19 September 1945, melecehkan kedaulatan Indonesia.
Hal ini memicu kemarahan rakyat Surabaya, yang merobek bagian biru dari bendera Belanda dan mengibarkan bendera merah putih.
Baca Juga: Bahagianya Seniman Jawa di Sumatera Utara, Dapat Bantuan Gamelan Gratis dari Ganjar, Balon Capres
Pada 27 Oktober, pasukan sekutu menyerbu penjara untuk membebaskan pasukan mereka.
Pada 28 Oktober, Bung Tomo dan pasukannya menyerang pos pertahanan sekutu, memuncak dengan terbunuhnya pimpinan pasukan Inggris Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945.
Sekutu mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerah pada 10 November 1945 jam 6 pagi, atau mereka akan menyerang Surabaya dari darat, laut, dan udara.
Baca Juga: Silaturahmi ke Sumut, Ganjar Disambut Ribuan Orang dan Dipakaikan Kain Khas Melayu
Tanggapan Bung Tomo terhadap ultimatum tersebut melibatkan pidato yang membangkitkan semangat rakyat Surabaya, menyuarakan semboyan "Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semangat kita tetap: merdeka atau mati!"
Semangat dan nilai-nilai perjuangan Indonesia, yang telah hidup selama berabad-abad, tidak hanya menginspirasi di tanah air tetapi juga menyebar ke belahan dunia, termasuk ke Cape Town, Afrika Selatan.