Hadir sebagai tuan rumah RM Marrel Suryokusumo – yang mewakili Kraton Yogyakarta, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Pendeta Gereja Kristen Jawa Minomartani Kris Suwoyo, Pastor Paroki Gereja Katolik St Petrus dan Paulus Minomartani Rm Marcus Crisinus Sadana Hadiwardaya MSF, Kapolsek Ngaglik AKP Yulianto serta para tokoh lintas iman yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kapanewon Ngaglik, Sleman
Baca Juga: Adik Ipar Jokowi, Anwar Usman, Tolak Hapus Presidential Threshold, Begini Alasannya
Dalam kunjungan tersebut, Ketum GP Ansor Addin Jauharudin menandaskan bahwa kunjungan tali silaturahmi menjelang Natal dan Tahun Baru bagi Ansor merupakan suatu tradisi. Ansor melalui Bansernya selalu dan akan terus membantu pengamanan jalannya perayaan Natal dan Tahun Baru di gereja-gereja di seluruh Indonesia.
Bahkan sejak tahun 2000, jelas Addin, Ansor selalu mengingat Natal sebagai peristiwa kemanusiaan. Karena salah satu anggota Banser, Riyanto, menjadi korban ledakan bom pada 24 Desember 2000.
Ia meninggal dunia saat mengamankan perayaan malam Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto, Jawa Timur.
MATI SYAHID
Riyanto adalah anggota Banser yang mati syahid akibat ledakan bom saat berjaga pada malam Natal di Gereja Jemaat Pantekosta Indonesia atau GSJPDI Eben Haezer Mojokerto, Jawa Timur, 24 Desember 2000 silam.
Kisah Riyanto yang terjadi 24 tahun silam itu kembali dikenang pada acara Riyanto Award serangkaian dengan peringatan haul Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Kantor GP Ansor, Senin, 23 Desember 2024.
Kisah patriotisme yang dialami anggota Banser Kota Mojokerto tersebut terjadi pada 2000, saat penjagaan di gereja menjadi dianggap sangat penting menyusul sejumlah teror yang terjadi.
Pada 1 Agustus, bom meledak di Kantor Kedutaan Filipina di Jakarta dan pada 13 September bom meledak di lantai parkir Bursa Efek Jakarta. Riyanto saat itu juga izin untuk tidak pulang pada malam harinya. Ia ingin beriktikaf di masjid selepas menjaga gereja.
Saat menjaga Gereja Eben Haezer bersama tiga rekannya, sekitar pukul 20.30 WIB, Riyanto mendapat laporan adanya benda mencurigakan di depan gereja dari jemaat.
Bentuknya bungkusan tas plastik dan tas berisi kado di bawah telepon umum depan gereja.
Riyanto kemudian berinisiatif mengambil dan menyerahkan ke polisi yang berjaga. Setelah dicek ternyata bungkusan plastik itu berisi bom.
Petugas yang berjaga kemudian meminta semua menjauh dan tiarap.
Namun Riyanto justru membawa lari benda itu, menjauhkan dari gereja. Saat berusaha mengamankan itulah, bom meledak. Tubuhnya terpelanting sejauh 30 meter. Tak lama kemudian bom kedua juga meledak.
Tidak ada jemaat yang menjadi korban jiwa.
Artikel Terkait
KWI Lawan Tawaran Tambang: Mengapa Kesejahteraan Bersama Lebih Penting?
Kominfo, PT Pos Indonesia, dan KWI Launching Perangko Khusus Kunjungan Paus Fransiskus
KWI Sampaikan Terima Kasih dan Permohonan Maaf Setelah Kunjungan Paus Fransiskus
Ketua KWI Menyambut Hangat Kepengurusan Baru PP PMKRI
Garuda Indonesia Gandeng KWI, Hadirkan Community Privilege hingga 2026
Perayaan Natal 2024, KWI Ajak Umat Dukung Prabowo Wujudkan Indonesia Lebih Baik