Nadiem Makarim: Jurnalis Harus Siap Lawan AI! Sekolah Jurnalisme Indonesia Jadi Solusinya

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 6 Februari 2024 | 12:44 WIB
Ketua PWI Jabar menyerahkan cinderamata ke Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek Nadiem Anwar Makarim didamping PJ Gubernur Jabar Bey Machmudin. (Dok. Pontianak Globe)
Ketua PWI Jabar menyerahkan cinderamata ke Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek Nadiem Anwar Makarim didamping PJ Gubernur Jabar Bey Machmudin. (Dok. Pontianak Globe)

PONTIANAKGLOBE.COM, BANDUNG -- Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menyampaikan pandangannya tentang persaingan dunia jurnalisme dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, meskipun teknologi terus berkembang, hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan standar kualitas jurnalisme di Indonesia.

Baca Juga: Jaringan Pemimpin Redaksi Promedia Audiensi dengan TKN Fanta dan Relawan Digital Prabowo-Gibran, Hal Ini yang Dibahas

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Nadiem dalam pidatonya pada pembukaan Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Kelas Muda Angkatan pertama, pada Selasa, 5 Februari 2024 di Sekretariat PWI Jawa Barat, Jalan Wartawan, Lengkong, Kota Bandung.

Nadiem memberikan pesan kepada para wartawan untuk tetap mempertahankan kualitas jurnalisme di tengah disrupsi informasi.

“Teknologi telah mengubah segala aspek sektor jurnalisme. Kondisinya kini bersifat disruptif. Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme. Saat ini, kita harus bersaing dengan kecerdasan buatan. Kita perlu menjaga integritas, berpikiran kritis, dan menulis dengan hati nurani, karena hal tersebut tidak dapat dimiliki oleh mesin kecerdasan buatan,” ujar Nadiem.

Baca Juga: Promedia Teknologi dan UIN Muhammad Yunus Batusangkar Kerjasama Praktik Media Online

Nadiem juga mengakui bahwa ia kadang merasa bingung saat membaca beberapa publikasi berita daring yang mengasumsikan bahwa ia sudah mengikuti isu tertentu, padahal ia baru mengetahui isu tersebut.

Ia memberi contoh media The Economist yang menurutnya memberikan pengalaman membaca yang lebih menyeluruh.

“Setiap orang dijelaskan dengan baik, bahkan tokoh terkenal pun dijelaskan siapa dia. Seolah-olah pembaca tidak mengetahui informasi tersebut sebelumnya. Ini adalah standar jurnalisme yang perlu diadopsi, sehingga tingkat literasi masyarakat dapat ditingkatkan. Saat ini, risiko masyarakat terpapar misinformasi dan disinformasi sangat tinggi karena tidak ada standar penulisan yang komprehensif dan integritas yang kuat,” ungkapnya.

Ketua PWI Pusat, Hendri Ch Bangun, menyebut SJI sebagai kelanjutan dari program yang telah digagas sejak tahun 2016.

Baca Juga: Promedia Teknologi Dapat Penghargaan Kemenkop-UKM, Penguatan Jaringan dan Kemitraan Strategis PLUT-KUMKM

Baginya, SJI merupakan inisiatif untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan sesuai dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, SJI menjadi ikon dari PWI yang sudah berjalan sejak lama.

“Sekolah Jurnalisme Indonesia pertama kali diadakan di Palembang pada tahun 2010, dengan Presiden SBY sebagai pembicara utama. Pada kesempatan ini, konsep multitasking jurnalisme menjadi fokus, termasuk dalam berpikir kritis, memiliki wawasan kebangsaan, dan menjaga integritas,” jelas Hendri. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X