Perawat Pekerjaan Mulia: Pengalaman dan Pemikiran Junko Seriguci

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 12 September 2023 | 12:24 WIB
Junko Seriguci tengah memaparkan materi, Selasa 12 September 2023 - bersama penerjemahnya  (Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak)
Junko Seriguci tengah memaparkan materi, Selasa 12 September 2023 - bersama penerjemahnya (Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak)

Selanjutnya di Jepang terkenal dengan musim dingin. Saat musim dingin itu, suhu turun, dan jenis pakaian berubah. Di bagian utara, cuaca sangat dingin dan salju turun dan menumpuk.

“Kami menyebutnya "Kotatsu," yang merupakan alat pemanas khas yang membuat kita merasa hangat di musim dingin,” kata Junko.

Selain membahas pakaian, dia juga memberikan wawasan tentang makanan khas Jepang. "Beras adalah makanan pokok di Jepang, mirip dengan Indonesia. Beras di Jepang agak lengket, memudahkan penggunaan sumpit," katanya.

Dalam konteks makanan, Junko juga membandingkan cara makan di Jepang dan Indonesia, dia berpendapat, di Jepang, makanan biasanya disajikan terpisah, sedangkan di Indonesia, sayurannya sering dicampur.

“Saya senang bisa mencicipi makanan Indonesia selama kunjungan saya,” ungkap Junko dengan antusias.

Konteks budaya, Sensei juga membagikan bahwa orang Jepang cenderung memberi salam dengan menundukkan kepala. Yang paling mereka hargai di jepang adalah pemanfaatan waktu secara maksimal.

Junko memiliki pengalaman tentang cara makan yang teratur dan tata cara sopan sudah diajarkan orang tuanya sejak kecil di Jepang. Misalnya seperti penggunaan sumpit dengan tangan kanan dan nasi di tangan kiri, serta ucapan selamat makan dan terima kasih.

Pindah ke topik kesehatan, Junko Sensei menjelaskan sistem asuransi kesehatan di Jepang, yang mencakup semua warga dengan pembayaran sendiri bagi pekerja, serta bantuan negara bagi yang tidak bekerja.

Tidak hanya itu, dia memperkenalkan berbagai bidang dalam keperawatan di Jepang dan tantangan yang dihadapi oleh perawat, termasuk kekurangan tenaga kerja, masalah lingkungan kerja, dan masalah gaji.

Meskipun berat, perawat di Jepang merasakan kebahagiaan saat melihat pasien sembuh.

Junko menyimpulkan, saat perawat melakukan tugasnya dengan baik maka disana mereka mendapatkan sebuah misi yang mulia.

Memang dia mengakui setiap menjalankan misi tersebut selalu ada tantangan, namun profesi seorang perawat selalu dihargai.

Menutup seminarnya itu, dia bersaksi bahwa setiap hari mereka menghadapi pasien dan bekerja sambil berjuang di rumah sakit dan panti jompo.

Di Jepang, bidang medis seringkali sulit karena kekurangan tenaga kerja.
Namun, bahkan dalam lingkungan seperti itu tanpa pasien, perawat tidak akan dapat menunjukkan kemampuan mereka.
“Benar bahwa kami belajar banyak dari pasien kami,” kata Junko.

Menjadi Perawat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X