Sketsa Kesehatan Anak Indonesia di Kalimantan Barat

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 19 September 2022 | 07:30 WIB
Ilustrasi kesehatan (Pexels)
Ilustrasi kesehatan (Pexels)

Oleh: Dr dr Lianda Tamara SpA | Pemerhati Hematologi-Onkologi Anak Kalimantan Barat

Juli merupakan bulan yang berkesan dalam kehidupan seorang anak Indonesia karena setiap 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional.

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal yang sama juga selaras dengan penetapan Undang-undang tentang Kesejahteraan Anak.

Keluarga diharapkan dapat menjadi lembaga pertama yang memberikan perhatian khusus dalam setiap tahap perkembangan anak sebagai generasi harapan bangsa.

Undang-undang No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menuliskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Indonesia juga mengakui hak anak untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya; hak untuk terlindung dari kekerasan; hak untuk bertumbuh dan berkembang; serta hak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapat, sesuai dengan hak anak yang tercantum dalam konvensi Internasional PBB.

Dalam bidang kesehatan, pemenuhan hak anak untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan hak untuk bertumbuh dan berkembang merupakan tantangan yang besar.

Bercermin pada kondisi kesehatan anak di Indonesia, hak anak terkait kelangsungan hidup dalam hal ini hak untuk melestarikan, mempertahankan hidup dan memperoleh standar kesehatan tertinggi serta perawatan yang sebaik-baiknya tampak menjadi impian yang perlu dicapai setahap demi setahap.

Kondisi geografis Indonesia yang memiliki topografi beragam serta maldistribusi tenaga kesehatan menjadi tantangan besar dalam pemerataan kualitas layanan kesehatan anak di urban maupun rural.

Perjalanan enam tahun (2015-2021) sejak dimulainya layanan kesehatan untuk anak dengan kelainan darah dan kanker (hemato-onkologi) di Kalimantan Barat mencatat 316 anak mendapatkan layanan kemoterapi.

Perjuangan setiap orang tua untuk mendampingi anak dalam menyelesaikan proses pengobatan kemoterapi bukanlah hal yang mudah.

Topografi Kalimantan Barat dengan wilayah yang luas, akses transportasi yang terbatas, kondisi ekonomi keluarga yang tidak mapan, dan keterbatasan fasilitas kesehatan serta akses terhadap layanan kesehatan menjadi rintangan dalam perjuangan tersebut. Tidak jarang keluarga menghabiskan penghasilan mereka untuk menempuh perjalanan laut dan darat dalam menggapai fasilitas layanan kesehatan bagi sang buah hati yang menderita kelainan darah dan kanker.

Uluran kasih pada donatur membantu meringankan beban keluarga yang menginap di sekitar rumah sakit dan anak-anak yang membutuhkan layanan kesehatan.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sepanjang proses pengobatan berbagai rintangan lainnya masih terus menggerus asa mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan yang optimal.

Keterbatasan stok darah, fasilitas kesehatan, dan tenaga kesehatan seringkali mendorong anak untuk melanjutkan pengobatan dengan rujukan ke Pulau Jawa.

Selama dua tahun terakhir kondisi pandemi menutup harapan anak dengan kelainan darah dan kanker di Kalimantan Barat untuk mendapatkan layanan kesehatan di Pulau Jawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Rekomendasi

Terkini

Waspadai Gangguan Kardiovaskuler

Rabu, 16 Juli 2025 | 20:55 WIB
X