PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran nyamuk ber-Wolbachia telah menimbulkan berbagai informasi yang simpang siur.
Banyak yang percaya bahwa nyamuk ini dapat menyebabkan penyakit fatal, seperti radang otak atau Japanese Encephalitis.
Namun, ahli menegaskan bahwa kekhawatiran tersebut tidak beralasan.
Baca Juga: Konflik Keluarga: Nikita Mirzani Berencana Mengeluarkan Nama Lolly dari Kartu Keluarga
Nyamuk Wolbachia merupakan nyamuk Aedes aegypti yang terpapar oleh bakteri Wolbachia, yang hidup sebagai parasit pada hewan arthropoda.
Meski awalnya diteliti untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD), hasil penelitian menunjukkan bahwa Wolbachia dapat menghambat replikasi virus dengue yang biasa ditularkan nyamuk Aedes aegypti ke manusia.
Baca Juga: Paroki Santo Fransiskus dalam Perjalanan di Singkawang dan Multikulturalnya
Peneliti, termasuk Bill & Melinda Gates Foundation, telah melakukan eksperimen dengan melahirkan lebih banyak nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia sebagai bagian dari program menekan penyakit DBD di beberapa negara, termasuk Kolombia dan Indonesia.
Menurut studi yang dilakukan oleh dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D., Peneliti Nyamuk ber-Wolbachia di Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM), penyebaran nyamuk Wolbachia di beberapa wilayah di Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, berhasil menekan angka DBD sebanyak 70-80 persen.
Baca Juga: Paus Fransiskus Rilis Buku Baru 'Natal di Gua'
Namun, belakangan, nyamuk Wolbachia mendapat kritik karena dianggap sebagai hasil rekayasa genetik dan dihubungkan dengan berbagai isu kontroversial, termasuk penularan penyakit radang otak dan pembentukan genetik LGBT. Dr. Riris Andono menegaskan bahwa nyamuk ber-Wolbachia sama sekali tidak membahayakan manusia.
"Bakteri Wolbachia adalah bakteri alami yang bisa ditemukan di alam dan hanya hidup sebagai parasit sel tubuh serangga. Nyamuk ber-Wolbachia tidak membahayakan manusia, dan isu ini adalah disinformasi yang sangat kuat," kata dr. Riris Andono dalam diskusi online.
Baca Juga: 11 Destinasi Terbaik di Asia 2024 Menurut CN Traveler: Apakah Indonesia Termasuk?
Selain manfaat menekan DBD, teknologi nyamuk Wolbachia juga diakui sebagai ramah lingkungan karena berhasil menurunkan aktivitas fogging hingga 83 persen.
Tags
Artikel Terkait
-
10 Tanaman Pengusir Nyamuk. Wajib Ada di Pot atau Tanam di Pekarangan Rumah
-
6 Cara Menghilangkan Sakit Kepala Tanpa Obat, Kamu Wajib Mencobanya
-
Ternyata 11 Bumbu Dapur Ini Bisa Jadi Obat Herbal untuk Redakan Batuk
-
7 Tanaman di Pekarangan Ini Bisa Usir Nyamuk
-
Eksplorasi Penyakit Menular, Pengobatan Komplementer, dan Penemuan Obat: Diskusi dalam Seminar Kesehatan
-
7 Metode untuk Mengatasi Asam Urat Tanpa Menggunakan Obat, Ternyata Mudah Dilakukan!
-
Apa Itu Nyamuk Wolbachia? Nyamuk 'Bill Gates' yang Viral di Medsos