Budaya Sehat Jamu Diakui Badan PBB UNESCO, Indonesia Patut Bangga

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 22 Desember 2023 | 08:51 WIB
Budaya Sehat Jamu mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia UNESCO dari Indonesia yang ke-13. (Instagram @farmalkes)
Budaya Sehat Jamu mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia UNESCO dari Indonesia yang ke-13. (Instagram @farmalkes)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Budaya Sehat Jamu, diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia ke-13, resmi tercantum dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO pada 6 Desember 2023.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, mengungkapkan kebanggaan atas pengakuan tersebut, menyatakan bahwa hal ini akan memperkuat upaya Indonesia dalam melindungi dan mengembangkan warisan budaya jamu.

Baca Juga: Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2023, Begini Kata Menteri Pendidikan Nadiem Makarim

Mendikbudristek Nadiem menyampaikan terima kasih kepada UNESCO serta mengakui peran penting jamu sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad.

Ia juga mengapresiasi semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelestarian budaya sehat jamu, baik di dalam negeri maupun internasional.

Baca Juga: Bahasa Indonesia Resmi Sebagai Bahasa Konferensi Umum UNESCO

Sebagai salah satu dari 13 WBTb Indonesia, jamu dianggap mewakili hubungan harmonis antara manusia dan alam, menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Indonesia sebelumnya telah mencatatkan 12 Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO, termasuk Wayang, Keris, dan Batik.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, menjelaskan bahwa jamu, sebagai ramuan obat tradisional, memiliki nilai strategis dari segi ekonomi dan telah menjadi penanda peradaban serta local wisdom yang berharga.

Baca Juga: Sejarah Panjang Kota Melbourne, Ini Alasan Disebut Sebagai Kota Sastra oleh UNESCO

Dalam konteks pandemi, jamu juga terbukti memiliki peran penyembuhan dan penguatan bagi masyarakat.

Pelestarian jamu, menurut Hilmar, memerlukan keterlibatan bersama dan partisipatif dari masyarakat.

Jamu bukan hanya kekayaan budaya dan alam, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal dengan popularitas di pasar global. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: Kemendibud

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Waspadai Gangguan Kardiovaskuler

Rabu, 16 Juli 2025 | 20:55 WIB
X