PONTIANAKGLOBE.COM -- Sejumlah kebiasaan menjadi faktor risiko stroke.
Mulai dari kebiasaan merokok, terlalu banyak asupan garam, kurang aktivitas fisik, hingga kelebihan berat badan.
Namun, kebiasaan begadang dan kurang tidur juga dapat menjadi faktor risiko stroke yang seringkali tidak disadari. Kenapa?
Menurut dr. Sigit Dewanto H, SpN, FINS, FINA, seorang dokter spesialis neurologi, kondisi kurang tidur sebenarnya tidak secara langsung memicu stroke, melainkan bersifat tidak langsung.
Artinya, kondisi kurang tidur memicu sejumlah kondisi yang kemudian menjadi faktor risiko stroke.
Dr. Sigit Dewanto menjelaskan bahwa kurang tidur dapat mengganggu metabolisme tubuh.
Hal ini membuat kita lebih rentan terhadap faktor-faktor risiko stroke seperti tekanan darah tinggi dan kadar gula yang tinggi.
Kurang tidur dapat menjadi penyebab terjadinya gangguan tersebut, meskipun tidak bersifat langsung.
Lebih lanjut, dr. Sigit menyatakan bahwa tidur adalah waktu ketika proses regenerasi sel tubuh terjadi.
Jika tidur terganggu, proses regenerasi sel tersebut juga terhambat.
Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada tubuh, termasuk hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Selain kurang tidur, kebiasaan mengorok juga dapat memicu gangguan proses regenerasi sel saat tidur.
Mengorok bisa mengganggu aliran oksigen ke tubuh, dan ini dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea (OSA).
Artikel Terkait
Selain Diabetes, Penelitian Mengungkap Konsumsi Gula Berlebihan Dapat Menyebabkan Alzheimer
Lima Manfaat Penting yang Diberikan oleh Jus ABC Bagi Kesehatan Anda
20 Oktober Hari Osteoporosis Sedunia: Kenali Gejala dan Pencegahan Osteoporosis
10 Manfaat Kratom untuk Kesehatan, Baca Sampai Habis Ternyata Bisa Turunkan Hipertensi Juga Lho
Kemendag RI dan Badan Karantina Tak Sependapat Ekspor Kratom, Ini Alasan Mengapa Indonesia Larang Ekspor
7 Hal Menarik Mengenai Daun Kratom yang Tidak Banyak Diketahui
Moeldoko Mendorong Percepatan Riset Kratom untuk Maksimalkan Potensi Ekonomi