edukasi

Sejarah dan Pro-Kontra Pembelajaran Ramadan, Ternyata Libur Puasa Sudah Ada Sejak Zaman Penjajahan, Simak Penjelasannya!

Minggu, 19 Januari 2025 | 11:05 WIB
Ilustrasi seorang ibu mengajari anaknya di rumah. (freepik @our-team)

PONTIANAKGLOBECOM, PONTIANAK -- Pemerintah kembali mengatur pembelajaran selama bulan Ramadan dengan kebijakan yang menyesuaikan jadwal sekolah.

Meski menuai pro-kontra, kebijakan ini sesungguhnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Baca Juga: Pemerintah Layani Makan Bergizi Gratis di SLB, Menu Disusun Ahli Gizi

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi kebijakan ini? Temukan jawabannya dalam artikel ini.

Pemerintah memberikan penjelasan terkait kebijakan pembelajaran selama bulan Ramadan, yang sempat menuai banyak perdebatan.

Pro-kontra mengenai libur selama Ramadan mencuat, namun ternyata kebijakan pembelajaran selama bulan suci ini memiliki sejarah panjang.

Pemerintah telah mengungkapkan beberapa fakta penting terkait kebijakan ini.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menekankan bahwa kebijakan ini bukanlah bentuk libur total.

"Jangan sebut itu libur. Yang ada adalah pembelajaran di bulan Ramadan. Kata kuncinya adalah pembelajaran, bukan libur," ujar Mu'ti di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2025.

Saat ini, mekanisme pembelajaran selama Ramadan tengah disusun oleh pemerintah dengan melibatkan sejumlah kementerian terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Agama, serta Kementerian Dalam Negeri.

"Sudah ada kesepakatan bersama setelah dibahas lintas kementerian," tambah Mu'ti.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Sudah Jangkau 650 Ribu Orang, Ini Target Selanjutnya

Sejarah Belajar di Rumah saat Ramadan

Ternyata, kebijakan belajar di rumah selama Ramadan sudah ada sejak era kolonial Hindia Belanda pada tahun 1930.

Pemerintah kolonial saat itu memutuskan untuk meliburkan sekolah selama sebulan penuh, dengan tujuan mendekati hati umat Islam dan meredam potensi perlawanan terhadap penjajahan.

Halaman:

Tags

Terkini