edukasi

Menemukan Makna Dibalik Kata 'Marah'

Senin, 8 Juli 2024 | 13:22 WIB
Ngopi Sore di Lintang Batang (2018) (Media Center San Agustin)

PONTIANAKGLOBE.COM, Media Center San Agustin | Senin 08 Juli 2024 - Paradigma tidak dapat dipisahkan dari karakter.  Menjadi berarti melihat dalam dimensi kemanusiaan. 

Apa yang kita lihat sangat berkaitan dengan siapa kita. Kita tidak dapat mengubah cara pandang kita tanpa sekaligus merubah keberadaan kita, dan sebaliknya.

Bahkan pengalaman perubahan paradigma yang saya alami sore itu, memberikan pandangan baru tentang siapa saya – dan dibatasi oleh – karakter dasar saya.

Filosofi Kebijaksaan Tionghua Hakka yang disampaikan Ayah persisnya pada 2018 lalu, sambil duduk ‘ngopi’ di Rumah Lintang Batang, seperti biasa saya duduk ngopi di sore sekitar pukul 17.00 WIB bersama ayah di Kampung.

Banyak cerita yang kami bincangkan, namun tengah berbincang itu saya melihat adik kecil yang terus ‘merengek’ (Ezra waktu itu 3 tahun) menangis di sore hari.

Seperti biasa, Ayah bukannya marah, dia santai dan duduk sambil ngopi dan melanjutkan obrolan kami.

Menurut saya, Ayah dan Ibu merupakan sosok yang seimbang dalam keluarga. Ibu tipe orang yang meletup-letup, kata orang Ahe “Lantak Paku di Papan” to the Poin.

Marah ya marah, hanya marah sebatas itu saja!

Beda dengan Ayah, dari dulu tak pernah saya melihat dia marah yang meletup-letup.

Sambil menyilangkan kaki dengan sunguhan kopi hangat disore hari usai pulang kerja sambil memegang catatan kecil sajak yang dia tuliskan, sembari merencanakan apa yang harus dilakukan esok hari.

Penasaran, lalu saya tanyakan: “Pak, tomai papa be tiam-tiam mong nga thai kiau,”?

Artinya, Pak, kenapa bapak selalau diam saja melihat adik-adik merengek nangis?

“Aha!” inilah “Tili Put Kai Nyin, Kai Nyin Put Tili – Chiong Yi Tili, Nyi Emo Kai Nyin, Chiong Nyi Kai Nyin, Nyi Tu Eng Tili”

Artinya begini,  “orang yang pandai bisa mengerti, jika anda pandai dan menyalahkan orang, disana sebenarnya anda tak pandai.”

Halaman:

Tags

Terkini