Unika San Agustin dan PT Pribumi Kolaborasi Kembangkan Nilam, Mahasiswa Disiapkan Jadi AgriPreneur Muda

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Senin, 14 Juli 2025 | 13:41 WIB
Wakil Rektor Umum, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si, dengan CEO PT Premium Rempah Bumi (PRIBUMI), Andi Yunus Ladika (San Agustin)
Wakil Rektor Umum, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si, dengan CEO PT Premium Rempah Bumi (PRIBUMI), Andi Yunus Ladika (San Agustin)

PONTIANAKGLOBE.COM - Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan daerah melalui penguatan peran pendidikan tinggi.

Salah satunya ditunjukkan lewat pertemuan antara Wakil Rektor Umum, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si, dengan CEO PT Premium Rempah Bumi (PRIBUMI), Andi Yunus Ladika, yang berlangsung pada Senin pagi (14/7) di Kampus 2 Unika, Pontianak.

Pertemuan tersebut membahas rencana kerja sama strategis dalam bidang agribisnis, khususnya pengembangan tanaman Nilam (Pogostemon cablin) yang berpotensi besar dikembangkan di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Sinergi Pendidikan dan Industri untuk Pemberdayaan Masyarakat

Dalam dialog hangat itu, Brigjen Sumirat menyampaikan bahwa jurusan Agribisnis di Unika diharapkan bisa memberikan kontribusi langsung pada persoalan sosial dan ekonomi, seperti upaya pengentasan stunting dan peningkatan kesejahteraan petani di Landak.

“Kami ingin kampus ini tidak sekadar menjadi tempat belajar teori, tapi juga pusat transformasi sosial dan ekonomi. Jurusan Agribisnis harus bisa hadir nyata di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sistem Agribisnis Nilam Terpadu dari PT PRIBUMI

Menanggapi hal tersebut, Andi Yunus memaparkan bahwa PT PRIBUMI telah menyiapkan sistem agribisnis Nilam yang terintegrasi dari hulu ke hilir—mulai dari penyediaan bibit, proses produksi, hingga penjualan ke pasar ekspor.

“Harga jual yang tidak stabil sering menjadi persoalan utama petani. Karena itu, kami hadir dengan sistem tertutup yang menetapkan harga dasar dan menjamin pembelian hasil panen, agar petani punya kepastian,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia saat ini adalah produsen utama minyak Nilam dunia, dengan permintaan tinggi dari industri parfum dan kosmetik. Kalimantan Barat pun dinilai punya potensi besar menjadi kawasan produksi baru, selama didukung oleh kemitraan yang kuat dan berkelanjutan.

Peluang Ekonomi Besar dari Lahan Kecil

Andi menjelaskan lebih lanjut, dengan menanam 5.000 bibit Nilam di lahan setengah hektar, petani dapat menghasilkan rata-rata 5 kg per pohon. Jika dihitung dengan harga dasar Rp 1.000 per kg, maka pendapatan dari satu kali panen bisa mencapai Rp 25 juta. Apalagi, Nilam bisa dipanen setiap tiga bulan setelah masa tanam awal.

“Ini peluang besar, bahkan pekarangan rumah pun bisa dioptimalkan untuk menghasilkan pendapatan puluhan juta. Nilam sangat ramah lingkungan dan tidak perlu lahan luas,” terangnya.

Kampus Jadi Pusat Inovasi dan Edukasi Agripreneur

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Majalah DUTA

Tags

Rekomendasi

Terkini

X