Miris Dampak Penghapusan UN Ijazah SMA Indonesia Dianggap Tak Setara di Eropa

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Senin, 23 September 2024 | 18:27 WIB
Ilustrasi jurusan kuliah yang cocok untuk Introvert  (Freepik )
Ilustrasi jurusan kuliah yang cocok untuk Introvert (Freepik )

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Irwan Prasetiyo, seorang kreator konten, mengungkapkan dampak negatif dari kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN) yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sejak 2021.

Salah satu dampaknya adalah ijazah SMA dari Indonesia kini dipandang lebih rendah oleh beberapa universitas di Jerman dan Belanda.

Baca Juga: Menguak Sumber Penghasilan Vadel Badjideh, Pacar Anak Nikita Mirzani Lolly yang Tengah Disorot

Dalam unggahan Instagram-nya, yang dikutip pada Minggu, 22 September 2024, Irwan menjelaskan bahwa ijazah SMA Indonesia kini hanya bisa digunakan untuk mendaftar ke hogeschool atau university of applied science, yang setara dengan perguruan tinggi vokasi.

Kebijakan baru yang menggantikan UN dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter bertujuan untuk memetakan kualitas pendidikan.

Baca Juga: Kapolri Lakukan Mutasi Besar-besaran, 17 Pamen Dapat Jabatan Kapolres

Namun, menurut Irwan, perubahan ini menyulitkan lulusan SMA Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke universitas di Eropa, terutama di Belanda.

Salah satu contohnya adalah University of Twente yang tidak lagi menerima lulusan SMA Indonesia secara langsung sejak penghapusan UN.

Masalah ini muncul karena sistem pendidikan Indonesia dianggap tidak lagi setara dengan standar pendidikan di Belanda.

Baca Juga: Adopsi Keanggunan Musim Gugur, Grand Seiko Spring Drive SBGA499, Edisi Terbatas yang Mewah

Di Jerman, persyaratan masuk studienkolleg (program persiapan masuk universitas) kini menetapkan nilai minimal 85, berbeda dengan sebelumnya yang hanya memerlukan nilai 60.

Unggahan Irwan ini memicu berbagai reaksi di media sosial, terutama dari mereka yang merasa kecewa dengan kesulitan yang dihadapi lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan di Eropa.

Banyak warganet mengkritik kebijakan ini dan mempertanyakan tanggung jawab pemerintah, khususnya Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X