Ia menilai kejadian tersebut menimbulkan dugaan adanya upaya untuk membatasi ruang mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.
BEM UI Soroti Krisis Ekonomi hingga Bencana Flores
Aksi demonstrasi BEM UI di Bundaran HI mengusung sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, politik, hingga penanganan bencana.
Mahasiswa menilai persoalan kesejahteraan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Salah satu isu yang disoroti adalah kenaikan dan tingginya harga kebutuhan pokok serta bahan bakar minyak (BBM).
Selain persoalan ekonomi, mahasiswa juga mempersoalkan pemusatan kekuasaan. Mereka mendesak pemerintah menghentikan pemusatan kekuasaan, menyoroti pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta memperkuat otonomi daerah.
BEM UI juga menolak intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil, termasuk keberadaan batalyon-batalyon yang disebut akan dibangun di sejumlah daerah.
Menurut Hafidz, penguatan militer bukan menjadi kebutuhan utama masyarakat saat ini.
"Yang dibutuhkan negara ini adalah kesejahteraan," tegasnya.
Tuntutan lainnya berkaitan dengan penanganan bencana gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Flores.
Mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk wilayah terdampak serta mempercepat proses pemulihan masyarakat.
"Tuntutan terakhir kami adalah meminta pemerintah menetapkan status Bencana Nasional di NTT dan Flores," tandas Hafidz.
Di tengah polemik menjelang aksi, klaim mengenai intimidasi terhadap para sopir Kopaja tersebut menjadi sorotan. Hingga kini, belum terdapat keterangan lebih lanjut dari pihak kepolisian terkait tudingan intimidasi terhadap para pengemudi maupun kronologi lengkap kericuhan yang terjadi sebelum aksi. ***