PONTIANAKGLOBE.COM, LOMBOK TENGAH -- Pengacara Hotman Paris Hutapea mengaku geram karena timnya tidak diizinkan menemui santri korban pembakaran di Pondok Pesantren (Ponpes) Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.
Menurut Hotman, tim Hotman 911 juga tidak dapat bertemu dengan keluarga korban yang disebut mendapat tekanan agar tidak banyak berbicara kepada publik.
"Tim Hotman 911 tidak diizinkan besuk korban, ibunya dimarahin kalau sering masuk medsos," tulis Hotman melalui akun Instagram @hotmanparisofficial, Jumat (10/7/2026).
Hotman menambahkan dirinya masih berada di Singapura. Meski demikian, tim Hotman 911 siap mendampingi dan membawa keluarga korban ke Jakarta apabila diperlukan.
"Hotman masih di Singapura, tapi Tim Hotman 911 siap bawa keluarga korban ke Jakarta," lanjutnya.
Sebut Korban Seolah Diisolasi
Dalam unggahan lainnya, Hotman menilai korban seolah diisolasi selama menjalani perawatan di rumah sakit. Ia pun meminta Komisi III DPR RI memanggil Kapolres Lombok Tengah untuk memberikan penjelasan.
"Halo Komisi III DPR agar memanggil Kapolres Lombok Tengah. Bukannya dibawa berobat untuk operasi, malah diisolasi di RS Bhayangkara biar dijauhi dari media," tulisnya.
Pernyataan serupa disampaikan anggota tim Hotman 911, Putri Maya Rumanti, yang mengaku tidak dapat menemui korban saat berada di Lombok Tengah.
"Mau besuk enggak bisa masuk, katanya dijagain," ujarnya.
Baca Juga: Polemik Kebocoran Surat Dinas Menteri PU, Publik Soroti Nasib Whistleblower
Keluarga Korban Minta Pendampingan Hotman Paris
Dalam unggahan lain, keluarga salah satu santri yang meninggal dunia meminta bantuan hukum kepada Hotman Paris agar kasus tersebut diusut hingga tuntas.
"Kami dari keluarga santri atas nama SS yang kemarin meninggal dunia, mohon bantuannya untuk pengacara Hotman agar mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya," ujar kakak korban.