Ia mengatakan banyak pihak menilai Presiden akan menggunakan APBN secara sembarangan hingga berpotensi mendorong defisit melampaui batas.
"Orang pikir Presiden sembarangan. Orang salah sangka Presiden dan sangkanya waktu APBN segala macam, dia sembarangan kan penggunanya. Banyak bilang akan nembus defisit 4 persen dan lainnya," katanya.
Namun, Purbaya mengaku sempat mengingatkan Prabowo agar tidak membiarkan defisit APBN menembus 4 persen karena berisiko memicu gejolak dan mengganggu stabilitas ekonomi.
"Pertama dia mau begitu, gimana kalau tembus? Saya bilang, 'Wah, jangan Pak. Kalau sekarang kita tembus 4 persen, di atas 3 persen semua pasti akan meributkan kita. Kita akan diserang, kita enggak bisa jaga stabilitas,'" jelasnya.
Menurut Purbaya, setelah menerima masukan tersebut, Prabowo justru mengubah pendekatannya dan bahkan mempertimbangkan agar defisit APBN ditekan hingga mendekati nol.
"Dia adjust loh. Sekarang dia malah berbalik arah, gimana defisitnya dibuat nol. Saya bilang, 'Jangan, ekonomi masih butuh dorongan, kita atur pelan-pelan ke bawah.' Jadi, dia bisa menerima masukan, dia absorbs (menyerap), dan diterapkan dengan baik," ujarnya.
Purbaya menilai kesalahpahaman masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah muncul karena tidak mengetahui proses diskusi yang terjadi di balik pengambilan keputusan.
"Ya karena enggak pernah ngomong sama Presiden aja langsung. Presiden itu pintar, jadi jangan takut," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga menilai arah kebijakan ekonomi Prabowo mengadopsi konsep Sumitronomics, yakni strategi pembangunan yang menyeimbangkan stabilitas ekonomi, pertumbuhan, dan pemerataan.
"Dia (Presiden) Sumitronomics pasti. Stabilitas, pertumbuhan, pemerataan jadi satu. Program-program utamanya dia itu pemerataan sama stabilitas," katanya.
Purbaya menambahkan, setiap kebijakan baru memang memiliki risiko. Namun, menurutnya, risiko tersebut lebih baik dikelola dan diperbaiki secara bertahap dibanding mempertahankan kebijakan lama yang dinilai tidak efektif.
"Setiap usaha baru pasti ada risiko, berani enggak ambil risikonya? Kalau saya akan ambil, terus kita perbaiki terus ke depannya, daripada saya ngambil yang jeblok zaman dulu. Kan ini masih jalan," pungkasnya. ***