daily-vibes

Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta Tuai Kontroversi, Om Zein Jelaskan Makna Sebenarnya

Kamis, 2 Juli 2026 | 21:05 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein buka suara mengenai polemik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang tengah viral. (PPID Purwakarta)

PONTIANAKGLOBE.COM, PURWAKARTA -- Lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" menuai kontroversi di tengah publik.

Lirik lagu yang ditulis dalam Bahasa Sunda itu dinilai merendahkan perempuan dan mengandung stereotip gender sehingga memicu kritik dari berbagai kalangan.

Baca Juga: Pulau Penebang Punya Posisi Strategis untuk Dukung Hilirisasi dan Pertumbuhan Ekonomi Kalbar

Sejumlah penggalan lirik menjadi sorotan karena dianggap mengandung objektifikasi seksual terhadap perempuan. Salah satunya berbunyi, "Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali" yang berarti, "Andai saja jadi perempuan, saat kelas III SMP sudah tujuh kali keguguran."

Lirik lain yang juga menuai kritik antara lain, "Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu" ("Tidak perlu membeli bra dengan busa yang lebih besar daripada payudara") serta "Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan" ("Tidak perlu berkeliling mencari apotek karena terlambat datang bulan/hamil").

Setelah polemik tersebut viral di media sosial, Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein akhirnya memberikan penjelasan mengenai makna lagu yang ia ciptakan.

Disebut sebagai Refleksi Diri

Om Zein mengungkapkan bahwa lagu tersebut telah ditulis sejak 2020 dan merupakan refleksi atas perjalanan hidupnya, bukan ditujukan untuk merendahkan atau menyudutkan perempuan.

"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," ujar Om Zein dalam keterangannya, dikutip dari laman resmi PPID Purwakarta, Kamis (2/7/2026).

Ia menjelaskan, lirik tersebut merupakan bentuk kejujuran dalam merefleksikan ketidaksempurnaan dirinya pada masa lalu.

"Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," katanya.

Baca Juga: STAKAT Negeri Pontianak dan Paroki Santa Sesilia Tanam 1.000 Pohon di Rumah Pelangi, Wujudkan Semangat Ekoteologi dan Fransiskan

Sampaikan Permintaan Maaf

Meski menegaskan lagu tersebut merupakan refleksi personal, Om Zein mengakui setiap orang dapat memiliki penafsiran yang berbeda terhadap sebuah karya.

Ia pun menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini