"Yang pertama, pintar membaca perilaku pasangan. Itu perlu dilatih," katanya.
Menurut Joyce, apabila seseorang merasa terancam dan tidak mampu menghadapi situasi tersebut, langkah paling aman adalah segera menjauh dari hubungan tersebut.
"Kalau sudah tahu ini mengancam dan enggak sanggup melawan, ya sudah, pergi saja. Tinggalkan," ujarnya.
Selain berani pergi, Joyce juga menekankan pentingnya kemampuan berkomunikasi secara asertif.
Menurutnya, seseorang perlu belajar menyampaikan batasan secara tegas ketika menerima perlakuan yang tidak semestinya.
"Kalau merasa perlu melawan, belajarlah teknik komunikasi asertif. Belajar mengatakan tidak," jelasnya.
Ia mencontohkan bahwa nada bicara dan bahasa tubuh juga berperan penting saat menyampaikan penolakan.
"Dengan mengatakan, 'Kamu tidak boleh begitu kepada saya.' Nada suara dan bahasa tubuh juga perlu dilatih," ujarnya.
Joyce juga mengingatkan pentingnya memiliki support system yang kuat.
Menurutnya, keluarga dan sahabat merupakan pihak yang paling berperan membantu korban keluar dari hubungan toxic.
"Bangun support system. Sahabat, orang tua, keluarga harus dekat dengan kita. Karena merekalah yang nantinya membantu kita keluar dari situasi tersebut," katanya.
Selain faktor hubungan, Joyce menilai pola asuh juga dapat memengaruhi pembentukan karakter seseorang.
Menurutnya, pola asuh yang terlalu permisif serta minim penanaman nilai empati sejak dini berpotensi membentuk pribadi yang impulsif dan agresif ketika dewasa.
Menanggapi penjelasan tersebut, Feni Rose menilai pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga.
"Orang tua harus sejak dini melatih anak mengendalikan diri. Kalau salah harus ditegur, jangan dibiarkan," ujarnya.