Di hadapan umat dan para alumni, seluruh panitia maju ke depan altar untuk menyatakan komitmen pelayanan mereka.
Namun bagi Mgr Samuel, pengukuhan itu bukan sekadar seremoni.
Ia menyebutnya sebagai bentuk perutusan.
Reuni akbar, menurutnya, harus menjadi momentum mempererat persaudaraan lintas generasi sekaligus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai pendidikan Katolik yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad.
"Reuni ini mengajak kita berpikir ke depan," katanya.
Karena itu, perayaan 110 tahun bukan hanya tentang mengenang masa lalu yang gemilang, tetapi juga tentang menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting: seperti apa wajah Nyarumkop dalam 10, 20, atau bahkan 50 tahun mendatang?
Ketika Dunia Berubah Terlalu Cepat
Jika para misionaris dahulu berjuang menghadapi keterbatasan fasilitas, generasi sekarang menghadapi tantangan yang berbeda.
Anak-anak tumbuh dalam dunia digital.
Telepon pintar, media sosial, kecerdasan buatan, dan internet telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, bahkan berpikir.
Menurut Mgr Samuel, kenyataan itu tidak bisa ditolak.
Ia mengingatkan bahwa gawai telah menjadi bagian integral kehidupan manusia modern.
Persoalannya bukan lagi soal melarang.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mendidik generasi muda agar mampu memanfaatkan teknologi secara baik dan benar.
Di satu sisi, teknologi membuka akses tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan dunia.