PONTIANAKGLOBE.COM, SINGKAWANG -- Di bawah naungan pepohonan tua dan bangunan-bangunan yang menyimpan jejak sejarah panjang, Gereja Katolik di lingkungan Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) menjadi saksi sebuah momentum penting pada akhir Februari 2026 lalu.
Bukan sekadar pelantikan panitia.
Bukan pula hanya persiapan sebuah reuni.
Hari itu sesungguhnya menjadi awal dari sebuah percakapan besar tentang masa depan pendidikan Katolik di Kalimantan Barat.
Dalam Misa Pengukuhan Panitia Reuni Akbar PKN ke-110 Tahun, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap, mengingatkan bahwa perjalanan panjang Nyarumkop tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Tuhan.
"Tuhan yang memprakarsai segala sesuatu," katanya.
Kalimat itu membawa ingatan kembali lebih dari satu abad lalu ketika para misionaris datang ke Kalimantan.
Mereka bukan hanya membangun gereja, tetapi juga mendirikan sekolah.
Mereka percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk membentuk manusia dan mengubah masa depan masyarakat.
Dari keyakinan itulah lahir Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Kini, setelah 110 tahun, ribuan alumninya telah tersebar ke berbagai penjuru Indonesia. Ada yang menjadi dokter, guru, polisi, tentara, birokrat, pengusaha, petani, hingga pemimpin masyarakat.
"Jangan lupa, Anda juga alumni," ujar Mgr Samuel mengingatkan.
Kalimat sederhana itu seolah menjadi panggilan bagi setiap lulusan untuk kembali melihat akar yang telah membentuk perjalanan hidup mereka.
Reuni Bukan Sekadar Bernostalgia
Pada misa yang sama, Mgr Samuel mengukuhkan kepanitiaan Reuni Akbar PKN ke-110 yang dipimpin Yustianus SE MM.