PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Kabar baik datang dari laut Indonesia.
Di tengah meningkatnya suhu bumi dan ancaman perubahan iklim, sebagian besar terumbu karang di Indonesia ternyata masih mampu bertahan menghadapi pemanasan laut.
Baca Juga: Hari Laut Sedunia, Perubahan Iklim Ancam Nelayan, Akuakultur Dinilai Jadi Solusi Masa Depan
Namun para peneliti mengingatkan, ketahanan itu bukan tanpa batas.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang menganalisis kondisi terumbu karang Indonesia selama hampir dua dekade, dari 2004 hingga 2023.
Mengutip dari sciencedirect.com, penelitian mencakup 394 lokasi terumbu permanen di 32 wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 32 lokasi yang diteliti, sebanyak 26 lokasi menunjukkan kondisi tutupan karang yang relatif stabil. Dua lokasi bahkan mengalami perbaikan, sementara hanya empat lokasi yang tercatat mengalami penurunan.
Padahal, selama periode yang sama, suhu permukaan laut terus meningkat di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Peneliti menemukan bahwa banyak terumbu karang Indonesia mampu bertahan menghadapi gelombang panas laut yang terjadi pada 2010 dan 2016. Meski sempat mengalami pemutihan karang atau coral bleaching, sebagian besar mampu pulih kembali.
"Ini menunjukkan bahwa sejumlah terumbu karang Indonesia memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik terhadap tekanan panas," tulis tim peneliti seperti dikutip dari sciencedirect.com.
Ancaman Belum Berakhir
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa hasil tersebut tidak boleh ditafsirkan bahwa terumbu karang Indonesia aman dari perubahan iklim.
Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang panas laut terjadi semakin sering dan lebih intens dibandingkan sebelumnya. Pada 2024, dunia bahkan mengalami peristiwa pemutihan karang global keempat yang berdampak pada sebagian besar kawasan terumbu karang dunia.
Indonesia juga tidak luput dari dampak tersebut.
Di Raja Ampat, Papua Barat Daya, misalnya, para peneliti mendokumentasikan peristiwa pemutihan karang massal yang berkaitan dengan gelombang panas laut pada 2024.