Terumbu Karang Indonesia Masih Bertahan dari Pemanasan Laut, Tetapi Alarm Bahaya Sudah Berbunyi

photo author
Stefanus Akim, Pontianak Globe
- Rabu, 10 Juni 2026 | 21:12 WIB
Terumbu karang di Papua Barat yang masih nampak asri. (Pexels @Tom Fisk)
Terumbu karang di Papua Barat yang masih nampak asri. (Pexels @Tom Fisk)

Penelitian terbaru ini menemukan bahwa terumbu karang masih mampu bertahan ketika tekanan panas berada pada tingkat rendah hingga sedang.

Namun ketika suhu laut melewati ambang tertentu, kerusakan dapat terjadi dengan cepat.

Baca Juga: Strategi Investasi Taktis Saat Dolar Terus Menguat dan IHSG Terjun Bebas: Amankan Aset atau Belanja Portofolio?

Para ilmuwan menggunakan ukuran yang dikenal sebagai Degree Heating Weeks (DHW) untuk menghitung akumulasi tekanan panas yang dialami terumbu karang.

Secara sederhana, DHW menggambarkan seberapa lama dan seberapa tinggi suhu laut berada di atas kondisi normal.

Penelitian menunjukkan risiko kehilangan karang meningkat tajam ketika tekanan panas melampaui angka 12 DHW.

Artinya, terumbu karang Indonesia memang cukup tangguh menghadapi panas. Tetapi jika suhu terus meningkat dan berlangsung terlalu lama, ketahanan itu bisa runtuh.

Tidak Cukup Hanya Melihat Tutupan Karang

Peneliti juga mengingatkan bahwa kondisi "stabil" tidak selalu berarti ekosistem terumbu karang benar-benar sehat.

Sebuah kawasan bisa saja masih memiliki tutupan karang yang luas, tetapi kualitas ekosistemnya telah menurun. Karang-karang besar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan mungkin telah mati. Struktur terumbu yang kompleks bisa berubah menjadi lebih sederhana sehingga tidak lagi menyediakan tempat berlindung bagi banyak biota laut.

Dengan kata lain, dari permukaan terlihat baik-baik saja, tetapi kesehatan ekosistem sebenarnya bisa terus menurun.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kawasan konservasi laut tidak dapat mencegah pemutihan karang saat gelombang panas ekstrem terjadi.

Namun perlindungan kawasan tetap penting karena membantu terumbu karang pulih lebih cepat setelah mengalami kerusakan.

Contohnya terjadi di Pulau Weh, Aceh. Setelah mengalami pemutihan parah pada 2010, sejumlah terumbu karang berhasil pulih dalam beberapa tahun berikutnya. Pemulihan ini diduga didukung oleh perlindungan jangka panjang terhadap kawasan tersebut.

Sebaliknya, beberapa kawasan di Lombok mengalami penurunan yang lebih besar karena selain terkena gelombang panas, terumbu karangnya juga menghadapi tekanan manusia seperti pencemaran, sedimentasi, dan aktivitas penangkapan ikan yang merusak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Stefanus Akim

Sumber: sciencedirect.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB
X