PONTIANAKGLOBE:COM; PONTIANAK -- Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga laut sebagai sumber pangan dan penghidupan jutaan masyarakat pesisir.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, sektor perikanan menghadapi tantangan besar yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan.
Muhammad Hanif Azhar, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR), mengatakan perubahan iklim telah memberikan tekanan serius terhadap sektor perikanan tangkap.
Menurutnya, terganggunya ekosistem laut menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan terus menurun. Dampak tersebut dirasakan langsung oleh nelayan, terutama nelayan tradisional yang harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan yang memadai.
"Tantangan yang dihadapi sektor perikanan tangkap di tengah perubahan iklim adalah terganggunya ekosistem yang menyebabkan produktivitas sumber daya perikanan mengalami penurunan," katanya seperti dikutip dari unairnews.ac.id.
Baca Juga: Berburu Keringat di Bawah Lampu Kota: Sisi Finansial di Balik Tren Night Run Anak Muda Pontianak
Jarak melaut yang semakin jauh membuat biaya operasional nelayan meningkat.
Di sisi lain, perubahan iklim juga memicu pemutihan terumbu karang dan pengasaman air laut yang berdampak terhadap keberlangsungan berbagai spesies laut.
Hanif menjelaskan bahwa tidak semua organisme laut mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi.
Akibatnya, sejumlah spesies mengalami penurunan populasi bahkan kematian, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas sektor perikanan.
Kerusakan ekosistem pesisir juga menjadi ancaman tersendiri.
Kawasan mangrove dan habitat pesisir yang rusak dapat mengurangi kemampuan alam dalam mendukung kehidupan berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya.
"Upaya perbaikan lingkungan seperti rehabilitasi mangrove dan kawasan pesisir menjadi sangat penting," ujarnya.