“Saya memaksa perbankan berpikir lebih keras supaya bisa bekerja dan mencari return,” tambahnya.
Baca Juga: Sri Mulyani dan Menhan Kunjungi Zona Merah Nduga, Kenakan Rompi Antipeluru
Ia juga meminta BI agar tidak menarik kembali dana pemerintah yang telah ditempatkan di perbankan.
Menurutnya, bank sentral perlu memberi dukungan penuh terhadap langkah fiskal Kementerian Keuangan.
Purbaya kemudian menyinggung kasus serupa yang pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Kala itu, pertumbuhan uang beredar hanya sekitar 7 persen, bahkan sempat stagnan selama dua tahun.
Saat masih menjabat deputi di Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Purbaya mengaku kaget ketika Jokowi memintanya ikut mengurai persoalan tersebut.
Baca Juga: IFG Symphony Choir Raih Emas di Festival Paduan Suara Internasional di IKN
“Saya bilang, Bapak bangun apa pun enggak akan maksimal, karena mesin ekonomi kita pincang. Hanya pemerintah yang jalan, sementara 90 persen perekonomian melambat,” kenangnya.
Ia menilai, stagnasi pertumbuhan uang beredar menjadi salah satu pemicu gejolak sosial yang memuncak dalam bentuk demonstrasi besar belakangan ini.
“Real sector susah, semua susah, keluar tagline #IndonesiaGelap. Kita salah arah karena 90 persen perekonomian digerakkan permintaan domestik,” tukas Purbaya. ***