wisata

Tak Hanya Kain Tenun, Kanun Juga Punya Beragam Potensi Tarik Minat Pembeli (Edisi ke-3 Selesai)

Jumat, 24 Maret 2023 | 23:04 WIB
Pengunjung sedang melihat produk dari Kampung Tenun Khatulistiwa yang dipamerkan di Belanda. (Sumber foto: Instagram @kanun_khatulistiwa.)

PONTIANAKGLOBE -- Pengembangan Kanun tidak semata-mata mengandalkan kain tenun songket Sambas. Sebab ada beragam potensi lain, yang bisa didorong untuk membantu pelaku UMKM di Kanun semakin memperluas pemasarannya. 

Kendati kain tenun songket buatan tangan khas Sambas cukup diminati pembeli dan mampu menghidupi para perajin, namun kini kompetisi semakin ketat. Utamanya persaingan dengan kain tenun hasil produksi mesin yang banyak dijumpai di pasaran.

Salah seorang perajin, Julia, menilai agar Kanun bisa dikenal luas oleh masyarakat tidak cukup mengandalkan kain tenun songket. Melainkan juga perlu memperkenalkan produk lain seperti kuliner yang penjualannya bisa memanfaatkan media sosial. Sehingga pembeli yang tidak sempat ke Kanun bisa memesannya via telepon selular.

“Penenun-penenun di sini biasanya posting di status whatsapp, dan facebook,” kata Julia.

Baca: Kisah Para Perajin Kain Tenun Toleransi di Pontianak Bangkit dan Bertumbuh Pasca Pandemi (Edisi 1)

Julia pernah mendapatkan pelatihan pemasaran digital untuk memasarkan produk Kanun pada 2014 dan 2020 lalu. Namun dia sulit membagi waktu, karena juga harus bekerja sebagai petugas survei Badan Pusat Statistik (BPS) dan ibu dari 4 anak yang masih kecil.

Karena itu, menurut Julia, untuk memasarkan produk Kanun harus fokus dan tidak bisa diganggu pekerjaan lain. Anak-anak muda generasi milenial dianggap lebih tepat mengelola pemasaran digital produk Kanun. 

Sejumlah pihak, termasuk Pertamina memberikan pelatihan pemasaran digital bagi para perajin di Kanun. Julia berharap pelatihan itu bisa rutin digelar agar perajin memiliki bekal ilmu yang cukup dalam memasarkan produknya secara digital.

Baca: Kampung Tenun Bersolek, Simpul Destinasi Wisata Alternatif Pontianak (Edisi ke-2)

Salah satunya, para perajin di Kanun memasarkan produknya melalui akun Instagram @kanun_khatulistiwa. Di akun ini terekam produk kain tenun songket Sambas dipamerkan di Belanda pada September 2022.

Produk yang dipamerkan di Belanda mulai kain tenun, pakaian, tas, aksesoris gelang dan lainnya. Para perajin juga menjual produknya melalui e-commerce Tokopedia dan Shopee.

Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat, Mangihut P. Aritonang mengatakan setiap daerah memiliki tantangan dalam menjual produk pelaku UMKM.

“Jika ingin menjual kain tenun, maka harus memiliki kekhasan tersendiri berbeda dengan kain-kain tenun pada umumnya. Kain tenun memiliki tantangan yang berbeda agar bisa diminati konsumen,” dia memaparkan.

Jika sudah tahu latar belakang nilai sosial, sejarah dan siapa yang membuat kain tenun itu, kata Aritonang, maka konsumen akan mencari produk tersebut. Mereka tidak akan mempermasalahkan harganya, meskipun terhitung mahal.

"Bikin satu event di Kota Pontianak atau di Pintu Lintas Batas Negara (PLBN) yang mendisplay produk-produk UMKM Kalbar, seperti tenun. Nanti yang datang dari Malaysia, Brunei atau kolektor kain ke event itu. Mereka akan bertanya tentang kain tenun tersebut," kata Aritonang kepada Pontianak Globe.

Ada interaksi antara calon pembeli dengan penenun saat event berlangsung. Rerata, kolektor atau penyuka kain tenun akan bertanya, apakah kain tersebut diproduksi mesin atau buatan tangan, menggunakan pewarna alami atau buatan dan sebagainya.

"Kolektor itu beli kain tenun biasanya ingin tahu cerita di baliknya. Misalnya soal sejarah kain tenun ini, semakin susah produk itu diperoleh, semakin lama menunggu, maka semakin orang mau membayar mahal kain tenun itu," terang Aritonang.

Halaman:

Tags

Terkini