“Misalnya yang ingin gantungan kunci, minta perajin lain suplai. Jika ada kunjungan dari mana, atau diundang ke acara apa, di sini ada kelompok tari. Sehingga perputaran ekonomi di sini timbul semua saling mengisi satu sama lain,” kata Tito yang sudah 8 tahun berkutat dalam program Community Development Pertamina.
Tito menjelaskan Pertamina mulai mendampingi Kanun sejak 2019, dan sampai saat ini kendalanya adalah belum semua warga terlibat pengembangan produk-produk Kanun. Mereka punya pekerjaan sampingan lain, sebagai petani, pekerja bangunan, pekerja lepas di industri sekitar Pontianak.
Seperti para remaja selesai sekolah menegah atas, ada yang bekerja di supermarket dan lainnya. Sehingga pendampingan untuk pengembangan produk Kanun, baru bisa dilaksanakan pada malam hari setelah semua pekerjaan harian selesai.
Menurut Tito, itu menjadi pekerjaan rumah untuk menjadikan karya-karya dari Kanun sebagai pencaharian utama.
“Misalnya jual kain ini tidak stabil, kadang bulan ini penjualan tinggi nanti tetapi bulan depan belum tentu ada [penghasilan], maka mereka membutuhkan pendapatan tambahan lain,” ungkap Tito.
Lurah Batulayang Teguh Setiawan mengutarakan Kampung Tenun Khatulistiwa merupakan kawasan sangat strategis. Titiknya pas di tengah-tengah. Dia mengibaratkan Kanun seperti SCBD di Jakarta dan Tugu Yogyakarta.
Bukan bermaksud berlebihan, Kanun merupakan simpul pusat dari segala ikon wisata di Kecamatan Pontianak Utara. Obyek wisata berkumpul menjadi satu dengan Kanun berada di tengah-tengah segitiga, Makam Raja Kesultanan Pontianak, Tugu Khatulistiwa Pontianak dan Bukit Rel.
“Ada wisata religi makam Raja Kesultanan Pontianak, Tugu Khatulistiwa dan Bukit Rel obyek wisata alam. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami untuk mengelola potensi bisnis di sana,” kata Teguh.
Dia menjelaskan pemkot tidak bisa sendiri mengelola dalam mengangkat potensi di Kanun apalagi. Oleh karena itu, Teguh mengutarakan pemkot menggandeng industri sekitar agar terlibat memajukan program sadar wisata (Pokdarwis) Kanun.
Khusus kain tenun, Teguh melihat promosi dan pemasaran melalui media sosial belum optimal. Dia melihat harus ada kolaborasi yang terstruktur dari anak-anak muda dalam mengelola digital marketing. Dia meyakini dengan promosi yang sistematis maka bisa meningkatkan pendapatan semua warga di Kanun. (Bersambung)
Artikel Terkait
Kisah Para Perajin Kain Tenun Toleransi di Pontianak Bangkit dan Bertumbuh Pasca Pandemi (Edisi 1)