Puri Agung Negara, Menyusuri Sejarah Kerajaan Jembrana di Balik Arsitektur Kolonial

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 16 Juli 2025 | 12:46 WIB
Puri Agung Negara di Jembrana, Bali. (Dok. Kemenparekraf RI)
Puri Agung Negara di Jembrana, Bali. (Dok. Kemenparekraf RI)

PONTIANAKGLOBE.COM, BALI -- Jembrana tidak hanya menyuguhkan pesona alam Bali Barat yang menawan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk dijelajahi.

Salah satu destinasi yang mengajak wisatawan menyelami masa lalu adalah Puri Agung Negara, bangunan bersejarah yang terletak di Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.

Baca Juga: Himbauan Kepala DP3A Kalbar Bagi Yang Ingin Bekerja ke Luar Negeri

Wisatawan yang berkunjung ke sini akan disuguhi pengalaman mengenal sejarah berdirinya Kota Negara, lengkap dengan warisan arsitektur bergaya kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Bangunan puri ini menjadi salah satu simbol kejayaan masa lampau yang kini terbuka untuk umum.

Menariknya, pengunjung dapat memasuki area puri tanpa tiket berbayar.

Pihak pengelola hanya memberlakukan sistem donasi sukarela, baik untuk dewasa maupun anak-anak yang ingin menjelajahi kawasan ini.

Baca Juga: Urgensi Skrining dan Edukasi dalam Mencegah Penyakit Degeneratif

Puri Agung Negara juga memiliki nilai sejarah tinggi karena pernah menjadi kediaman Anak Agung Bagus Sutedja, Gubernur Bali pertama.

Dari sinilah banyak keputusan penting di masa awal pemerintahan Bali modern diambil.

Berdasarkan temuan arkeologis, kawasan Jembrana sendiri telah dihuni sejak sekitar 6.000 tahun lalu.

Nama “Jembrana” diyakini berasal dari istilah Jimbar Wana, yang berarti hutan belantara, tempat bersemayamnya naga raja — sosok mitologis yang dikenal dalam cerita rakyat setempat.

Cerita rakyat dan mitos yang hidup di masyarakat membentuk tradisi lisan yang kuat.

Baca Juga: Kolaborasi Strategis San Agustin dan Bank Indonesia Kalbar

Tradisi inilah yang menjadi dasar pembentukan sistem kerajaan, lengkap dengan struktur kekuasaan, simbol-simbol pusaka, hingga pembangunan keraton sebagai pusat pemerintahan tradisional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X